• Bambang Budijanto


  •   
  • FileName: Gereja_dan_Modernitas.pdf [preview-online]
    • Abstract: ham-pir dapat dipastikan bahwa. tidak ada lagi analisa terhadap. perubahan sosial yang ... sebagai paradigma utama-nya. Ancaman terbesar dari moderni- tas terhadap pelayanan Gereja ...

Download the ebook

Jurnal Studi Pembangunan Kemasyarakatan & Lingkungan, Tahun I/1999, No. 3; 76-79
SUATU WACANA : GEREJA DAN MODERNITAS
Bambang Budijanto1
Modernisasi adalah suatu manusia (Hunter, 1994).
proses menuju tatanan Modernitas lebih dari sekedar
masyarakat yang modern, yaitu penolakkan terhadap otoritas
suatu sistem sosial (struktur, tradisional dan penyangkalan
institusi dan tekno-logi) dan terhadap otoritas Allah (agama)
pemahaman moral yang secara dan mencoba mengganti-kannya
bertahap (evolusi) bergerak dengan rasionalitas dan
menuju ke arah yang berlawanan humanisme.
dengan nilai-nilai yang berbau Apapun wujud persisnya,
tradisional (progress). Namun ham-pir dapat dipastikan bahwa
demi-kian, modernitas lebih dari tidak ada lagi analisa terhadap
sekedar pembangunan desa, perubahan sosial yang tidak
teknologi cang-gih atau proses menempatkan mo-dernitas
demokratisasi. Walau memang sebagai paradigma utama-nya.
benar bahwa modernitas telah Ancaman terbesar dari moderni-
menunggangi proses industri- tas terhadap pelayanan Gereja
alisasi dan sistim ekonomi bukan terletak pada tantangan
kapital-isme, sistem negara- (challenge) yang disodorkan oleh
bangsa (nation-state) serta modernitas terhadap otoritas dan
perkembangan ilmu pengetahuan tradisi Gereja, tetapi kekurang
dan teknologi (khusus-nya media) pahaman Gereja terhadap proses
dalam upaya memper-kokoh besar yang sedang bergulir.
dominasinya atas peradaban Gereja kurang memahami betapa
1
Direktur Eksekutif ICDS
76
Jurnal Studi Pembangunan Kemasyarakatan & Lingkungan, Tahun I/1999, No. 3; 76-79
dasyat, luas dan dalam dampak dan bahkan melibas nilai-nilai
modernitas terhadap Gereja, Alkitabiah. Oleh karena rasionali-
pelayanan gereja dan masyarakat tas dan bukan Alkitab yang di-
(Guiness, 1994: 328). Kekurang pandang sebagai paradigma
pahaman ini menyebabkan Gereja utama, maka seperti yang dika-
cenderung bersikap "business as takan oleh "gravedigger thesis":
usual", sehingga, seperti yang di-
ungkapkan oleh Hunter (1994: The Christian Church
22-23), pada umumnya Gereja contributed to the rise of
terbagi dalam tiga kelompok modern world; the modern
besar dalam menyikapi world, in turn, has
modernitas: Menarik diri dari undermined the Christian
dunia yang terus bergulir ke arah Church. Thus, to the
dan oleh modernitas; mengadap- degree that the Church
tasi tanpa seleksi, dan menentang enters, engages and
tanpa pengertian. employes the modern world
Ideologi utama modernitas uncritically, the Church
adalah "change" and "progress", becomes her own
dalam hal ini Gereja dapat gravedigger." (Guiness,
dipahami sebagai salah satu 1994: 324).
contributors awal yang terbesar
terhadap muncul dan ber- Secara ringkas dapat
kembangnya paham modernitas. dikatakan bahwa, sejauh Otoritas
Dari nilai-nilai utama yang dianut, Alkitab masih berdiri tegak dan
nampak modernitas bergerak me- berfungsi sebagai paradigma
ninggalkan akarnya di dalam utama dalam peng-adopsian
nilai-nilai Alkitabiah. Nilai-nilai nilai-nilai modernitas, maka nilai-
seperti calculability,
efisiensi, nilai modernitas akan memberi-
predictability dan control yang kan kontribusi yang positif
sekilas nampak bersumber pada terhadap pelayanan Gereja.
Alkitab, hakekat pemahamannya Tetapi jika Otori-tas Alkitab
cenderung berlawan-an dengan, diturunkan dan diganti dengan
77
Jurnal Studi Pembangunan Kemasyarakatan & Lingkungan, Tahun I/1999, No. 3; 76-79
otoritas rasio, yang memang yang sangat hakiki dalam per-
merupakan konsekwensi logis tumbuhan iman seseorang.
dari ideologi dan merupakan Secara umum respon
karakteristik utama dari gereja-gereja terhadap modern-
modernitas, maka tanpa sadar isme dapat digolongkan dalam
Gereja sedang menggali kubur- empat kategori. Pertama, gereja-
annya sendiri. gereja yang melihat bahwa arus
Jika dalam hal ideologi dan modernisme adalah sesuatu arus
nilai-nilai, pada kadar tertentu duniawi/ carnalisasi yang sangat
Gereja masih dapat melihat kuat, dan harus dijauhi. Karena
common grounds dengan merasa tidak berdaya me-lawan
modernitas, ber-kaitan dengan arus ini, mereka kemudian
karakteristik, nampak tercipta cenderung memisahkan diri dari
medan konflik antara Gereja dan atau mencoba keluar dari putaran
modernitas di setiap sudut/front. arus ini (withdrawal).
Beberapa karakteristik modernitas Kedua, gereja-gereja yang
yang sangat dominan seperti: mengadopsi karakteristik
Rasio-nalitas langsung modernitas secara tanpa batas,
berhadapan dengan hakiki iman dimana kemudia rasio menjadi
Kristen yang trans-cendence dan panglima dan iman diisolasikan
adanya campur tangan dari public sphere ke private
Supranatural (Allah). Pemisahan sphere. Dalam konkets ini gereja
antara kehidupan publik dan sudah kehilangan kendali atas
kehidup-an privat menghasilkan dirinya sendiri, dimana gereja
proses sekularisasi yang sangat dengan sengaja mengadakan
deras dan marginalisasi iman dari kudeta atas otoritas Allah dalam
kehidupan publik. Individualitas dirinya dan me-nyerahkannya
memang me-nyuburkan rasa kepada rasio manusia.
tanggung jawab pribadi pada Ketiga, gereja-gereja yang
seseorang, tetapi di sisi lain juga secara terus-menerus berusaha
mengubur nilai-nilai comunal me-lawan arus modernitas atau
lebih tepatnya, berusaha sesedikit
78
Jurnal Studi Pembangunan Kemasyarakatan & Lingkungan, Tahun I/1999, No. 3; 76-79
mungkin berurusan atau Banyak gereja yang melihat bahwa
bersentuhan dengan aspek- sistem pengelolaan/management
aspek, karakteristik dan nilai-nilai pe-rusahaan publik/industry lebih
yang terkait dengan modernitas. ber-manfaat dan menjanjikan
Perlawananan gereja terhadap sukses (in terms of effectivity and
segala hal yang berbau efficiancy) dari pada sistim one-
modernitas ini telah menciptakan man-show atau sistim
jurang yang semakin lebar antara kekeluargaan yang selama ini
gereja dengan "ladang pelayanan", diterapkan di gereja. Aspek
kepada siapa gereja ditugaskan. penting lain dari aktivitas gereja
Keempat, gereja-gereja yang ber-sentuhan dengan
yang memanipulasi modernitas modernitas adalah strategi.
untuk men-capai tujuannya. Liturgi mengalami pergeser-an
Wujud atau ekspresi dari "tujuan fungsi, yang dulunya merupakan
gereja", yang dalam bahasa ekspresi iman kepada Tuhan, kini
mereka disebut "visi" itu sendiri juga berfungsi sebagai alat atau
sering sangat dipengaruhi oleh strategi untuk mencapai "tujuan"
nilai-nilai modernitas. Visi Per- (dalam hal ini: pertumbuhan
tumbuhan Gereja misalnya, selalu jemaat). Dalam kadar tertentu
melibatkan angka-angka/jumlah dapat dikatakan liturgi gereja-
ang-gota jemaat yang mau gereja ini market
cenderung
dicapai (calculability) dan kapan oriented atau market driven. Pada
akan men-capainya saat angka-angka menjadi begitu
(predictability). Karena sukses penting dan dominan dalam
dalam pencapaian visi sangat kehidupan gereja, maka anggota
dipengaruhi oleh ketersediaan jemaat dalam ambang bahaya
sum-ber daya, maka implikasi akan kehilangan arti (meaning).
logis dari proses ini adalah Yang dulunya pertobatan satu jiwa
bagaimana gereja dapat begitu sangat menyentuh hati,
mengelola sumber-sumber haru dan sukacita yang luar biasa,
dayanya, baik manusia maupun kini menjadi sekedar tambahan
kapital secara efisien dan efektif. angka. Exitement warga gereja
79
Jurnal Studi Pembangunan Kemasyarakatan & Lingkungan, Tahun I/1999, No. 3; 76-79
bukan lagi dimunculkan oleh tanpa berusaha memahami
karya besar Roh Kudus dalam phenomena yang me-misahkan
merubah hidup orang, tetapi dari mereka dengan "umat manusia",
tahapan-tahapan dalam mencapai langsung berusaha me-lompat ke
sukses (numbers). gerbong "umat manusia". Jika di
Derasnya arus modernisme masa lampau gereja melihat
dan late
(post) modernisme phenomena modernitas sebagai
adalah suatu phenomena yang mimpi buruk, kini gereja melihat
paling signifikan dan berdampak phenomena ini sebagai mainan
terbesar dalam 400 tahun terakhir yang menarik. Gereja berpikir
ini. Beberapa puluh tahun yang bahwa seperti layaknya suatu
lalu banyak gereja di Indonesia mainan, gereja dapat kapan saja
(khusus-nya dari kalangan aliran mempergunakan modernitas di
injili dan pantekosta) masih kala perlu dan mem-buangnya di
melihat pheno-mena ini sebagai kala sudah mencapai tujuan atau
sebuah mimpi buruk yang tidak kenikmatannya. Per-samaan dari
terpahami ceritanya. Karena kedua periode di atas adalah
persepsi buruk yang sudah bahwa gereja tidak berusaha
terbentuk terhadap mimpi ini, cukup untuk memahami
maka gereja tidak berusaha cukup phenomena modernitas;
untuk memahami mimpi buruk substansi, trends (arah) ke depan,
ini. respon gereja-gereja pada cost dan benefit dari setiap
umumnya adalah berharap agar respon terhadap modernitas, serta
pagi segera datang dan mimpi scope dari dampaknya terhadap
buruk ini segera berlalu. gereja. Sebagai akibatnya gereja
Menyadari bahwa kini harus membayar mahal; jika dulu
gereja berada dalam gerbong gereja terisolasi karena
yang ber-beda/terpisah dari umat kehilangan momentum, kini
manusia, yang untuknya gereja gereja terkooptasi karena
exist, banyak gereja kembali kehilangan meaning.
80


Use: 0.5141