• MODEL MANAJEMEN STRATEGIS EVALUASI KINERJA USAHA MIKRO DAN ...

Download the ebook

MODEL MANAJEMEN STRATEGIS EVALUASI KINERJA USAHA
MIKRO DAN KECIL MAKANAN RINGAN
Rakhma Oktavina
Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Gunadarma
Jl. Margonda Raya No. 100 Depok 16423
ABSTRACT
The main problems in developing snack small and medium enterprises include
incompetency in optimizing their resources and in maintaining their business
environments. These result in low of productivity, quality, and competitiveness.
Accordingly, an evaluation on self condition and their environment in relation to
decision making process towards snack small and medium enterprises development
policy through performance measurement and improvement is required. Balanced
Scorecard was used in measuring firm performances. OWA Operator was performed
in assigning key performance indicators (KPI or IKK). Perspective weight, KPI, and
target were assigned using Fuzzy AHP. Steps of performance improvement was
developed on three submodels: (1) submodel of identification of customers’ needs and
technical characteristics, (2) submodel of assigning importance weight of customers
needs, correlations among technical characteristics, and value of relationship
between customers importance and technical characteristics, and (3) submodel of
assigning priority and recommendation for performance improvement. Model
verification was applied on banana crackers small and medium enterprises. OWA
Operator techniques was used to generate 10 alternatives of technical characteristics,
assigning importance weight of customers, correlations among technical
characteristics, and value of relationship between customers importance and technical
characteristics. Quality Function Deployment (QFD) technique was used to assign
priority and recommendation for performance improvement. The developed model
was implemented to generate performance improvement recommendation of banana
crackers small and medium enterprises in Bandar Lampung, Province of Lampung.
Key words: banana crackers small and medium enterprises; performance evaluation
model; strategic management systems.
ABSTRAK
Permasalahan utama pada pengembangan UMK makanan ringan adalah
ketidakmampuannya mengoptimalkan sumberdaya yang dimiliki dan mengelola
lingkungan bisnisnya sehingga berdampak pada rendahnya produktivitas, mutu, dan
daya saing. Untuk itu perlu dilakukan langkah evaluasi terhadap kondisi diri dan
lingkungan UMK dalam proses pengambilan keputusan atau penetapan kebijakan
pengembangan UMK melalui proses pengukuran dan perbaikan kinerja UMK.
Tahapan pengukuran kinerja mengikuti kaidah teknik Balanced Scorecard. Penentuan
indikator kinerja kunci (IKK) menggunakan teknik OWA Operator. Penentuan bobot
perspektif, IKK, dan target menggunakan teknik Fuzzy AHP. Tahapan perbaikan
kinerja dibangun atas tiga sub model, yaitu (1) sub model identifikasi keinginan
pelanggan dan karakteristik teknis, (2) sub model penentuan bobot kepentingan
keingingan pelanggan, korelasi antar karakteristik teknis, dan nilai hubungan
kepentingan pelanggan terhadap karakteristik teknis., serta (3) sub model penentuan
prioritas dan rekomendasi perbaikan kinerja. Verifikasi model dilakukan pada UMK
88 Jurnal Ekonomi Bisnis No. 2 Vol. 14, Agustsu 2009
makanan ringan keripik pisang. Teknik OWA Operator digunakan untuk
menghasilkan 10 altenatif karakteristik teknis, menentukan bobot kepentingan
keingingan pelanggan, korelasi antar karakteristik teknis, dan nilai hubungan
kepentingan pelanggan terhadap karakteristik teknis. Teknik Quality Function
Deployment (QFD) digunakan untuk menentukan prioritas dan rekomendasi
perbaikan kinerja. Implementasi model dilakukan pada UMK pengolahan keripik
pisang di Kotamadya Bandar Lampung, Propinsi Lampung, untuk menghasilkan
rekomendasi perbaikan kinerja.
Kata kunci: usaha mikro dan kecil, model evaluasi kinerja, system manajemen
strategik
PENDAHULUAN industri rumah tangga (Hambali et al.,
2005) serta ketersediaan bahan baku dan
Usaha mikro dan kecil pada iklim usaha yang mendukung mengingat
dasarnya merupakan salah satu penggerak hingga tahun 2015, keripik pisang masih
perekonomian daerah yang mampu termasuk dalam kelompok komoditas
memproduksi barang dan jasa yang yang dikembangkan dan mampu
menggunakan bahan baku utama yang memberikan nilai tambah yang cukup
berbasis pada pendayagunaan besar yaitu 100-150 kali dibandingkan
sumberdaya alam, bakat, dan karya seni komoditas pisang tanpa olahan
tradisional dari daerah setempat. Dalam (Departemen Pertanian, 2005).
arah pengembangan usaha mikro dan Masalah yang terjadi pada usaha
kecil sebagai penggerak perekonomian pengembangan usaha mikro dan kecil
daerah (Departemen Perindustrian dan makanan ringan seperti halnya usaha
Perdagangan, 2002), ditetapkan bahwa pengolahan keripik pisang adalah masih
lingkup komoditas prioritas yang rendahnya produktivitas, mutu, dan daya
menempati peringkat pertama adalah saing terhadap kompetitornya. Di sisi
usaha makanan ringan, melampaui usaha lain, penelitian mengenai usaha
lainnya seperti usaha sutera alam, usaha pengolahan keripik pisang hingga saat ini
penyamakan kulit, usaha minyak sawit, masih kepada pengembangan proses dan
usaha pupuk (alam dan organik), usaha belum kepada pengembangan sistem
garam, usaha genteng, usaha alsintani usaha. Siswoputranto (1973) melakukan
dan pandai besi, usaha kapal ≤ 100 GT, penelitian tentang pengaruh pemakaian
usaha motorisasi kapal nelayan, usaha asam sitrat, natrium metabisulfat, soda
alat pertanian tradisional, usaha tenun kue dan bakpuder pada pembuatan
tradisioal, usaha perhiasan, dan usaha keripik pisang tanduk, Siswoputranto
anyaman. (1974) tentang pengaruh pemakaian
Salah satu jenis usaha mikro dan amonium bikarbonat dan varietas pada
kecil makanan ringan yang memiliki pembuatan keripik pisang. Hofsetz dan
prospek sangat potensial untuk Lopes (2005) mengenai teknologi proses
dikembangkan adalah usaha pengolahan pembuatan keripik pisang berdasarkan
keripik pisang. Berkembangnya jumlah suhu dan waktu proses. Untuk itu
pelaku usaha mikro dan kecil pengolahan dibutuhkan kajian mengenai pengelolaan
keripik pisang dapat disebabkan oleh usaha mikro dan kecil agar mampu
beberapa faktor, antara lain adalah mewujudkan suatu hasil yang sesuai
karena pengolahan pisang menjadi dengan visi, misi, tujuan, dan sasaran
keripik tidak memerlukan teknologi yang perusahaan melalui perumusan model
tinggi dan modern sehingga dapat evaluasi kinerja sebagai salah satu usaha
diterapkan pada industri skala kecil dan
Oktavina, Model Manajemen… 89
memperbaiki produktivitas, mutu, dan (a) memiliki kekayaan bersih lebih dari
daya saing usaha. Rp.50.000.000,- atau paling banyak
Langkah memperhitungkan dan Rp.500.000.000,- tidak termasuk tanah
mengevaluasi kondisi dirinya dan faktor dan bangunan tempat usaha, atau (b)
lingkungan dalam proses pengambilan memiliki hasil penjualan lebih dari
keputusan untuk suatu rencana tindakan Rp.300.000.000,- sampai dengan paling
ataupun kebijakan dalam mengelola banyak Rp.2.500.000.000,- Dari sisi
perusahaan adalah suatu bentuk jumlah unit usaha, menurut Tambunan
manajemen strategis. Melalui sistem (2002), saat ini terdapat 39,72 juta jenis
manajemen strategis, perusahaan dapat usaha, di antaranya 39,71 juta masuk
menterjemahkan strateginya ke dalam pada usaha mikro, kecil dan menengah
sistem pengukuran tertentu sehingga (UMKM). Lebih terperinci, usaha kecil
memiliki kemampuan yang lebih baik berjumlah 640 ribu unit usaha, usaha
dalam menjalankan strategi tersebut menengah sebanyak 70 ribu unit dan
dengan resiko minimum. Hasil usaha mikro berjumlah 39 juta usaha atau
pengukuran tersebut kemudian digunakan merupakan 98 persen dari total unit
sebagai umpan balik yang akan usaha.
memberikan informasi tentang prestasi Untuk mengetahui tingkatan kinerja
pada berbagai aktivitas dalam rantai nilai yang telah dicapai oleh suatu usaha mikro
yang terdapat dalam perusahaan serta dan kecil maka perlu dilakukan evaluasi
dasar penentuan strategi perbaikannya, terhadap kinerja. Menurut The New
atau lebih dikenal sebagai evaluasi Webster Dictionary (2001), kinerja
kinerja perusahaan. Penelitian ini merupakan “prestasi” yang sering
dilakukan sebagai upaya untuk digunakan untuk menunjukkan suatu
mendapatkan model evaluasi kinerja kemampuan, atau “pertunjukan” yang
untuk suatu usaha mikro dan kecil biasanya digunakan untuk
berdasarkan prinsip-prinsip manajemen memperlihatkan suatu hasil karya, atau
strategis dengan pendekatan sistem. dapat juga berarti ”pelaksanaan tugas”
yang menunjukkan aksi seseorang dalam
bekerja. Russel (1993), mendefinisikan
TINJAUAN PUSTAKA
kinerja sebagai catatan tentang hasil-hasil
yang diperoleh dari fungsi-fungsi
Menurut UU No 20 Tahun 2008,
pekerjaan tertentu atau kegiatan tertentu
usaha mikro adalah usaha produktif milik
selama kurun waktu tertentu.
perorangan dan/atau badan usaha
Menurut Umar (2003), kegiatan
perorangan yang memiliki kriteria: (a)
evaluasi kinerja seharusnya menghasilkan
kepemilikan kekayaan bersih paling
informasi penting yang berguna, misalnya
banyak Rp.50.000.000,- tidak termasuk
sebagai umpan balik (feedback) bagi
tanah dan bangunan tempat usaha, atau
formulasi atau implementasi strategi.
(b) memiliki hasil penjualan tahunan
Menurut Younker (1993), perencanaan
paling banyak Rp.300.000.000.
kinerja yang efektif meliputi tiga proses
Sedangkan usaha kecil adalah usaha
utama, yaitu pengukuran status kinerja
ekonomi produktif yang berdiri sendiri,
awal, perencanaan perbaikan kinerja yang
yang dilakukan oleh orang perorangan
didasarkan pada strategi dan taktik, dan
atau badan usaha yang bukan merupakan
pengukuran status kinerja setelah
anak perusahaan atau bukan cabang
perbaikan. Anderson dan Clancy (1991)
perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau
mendefinisikan pengukuran kinerja
menjadi bagian baik langsung maupun
sebagai umpan balik dari perhitungan
tidak langsung dengan usaha menengah
manajerial yang menghasilkan informasi
atau usaha besar, yang memenuhi kriteria:
90 Jurnal Ekonomi Bisnis No. 2 Vol. 14, Agustsu 2009
seberapa baik rencana kegiatan telah dibutuhkan pengelolaan (manajemen)
dilakukan; juga untuk mengidentifikasi terhadap strategi-strategi evaluasi kinerja
dimana manajer (pimpinan) harus yang sesuai dengan karaktersitik usaha
melakukan perbaikan atau penyesuaian yang bersangkutan. Pearce dan Robinson
untuk perencanaan dan pengendalian (1997), mendefinisikan manajemen
pada masa yang akan datang. Sementara strategi sebagai sekumpulan keputusan
Anthony et al. (1997), mendefinisikan dan kegiatan dalam memformulasikan
pengukuran kinerja sebagai aktivitas dan mengimplementasikan rencana yang
pengukuran dari suatu atau seluruh rantai dirancang dalam mencapai tujuan
nilai. Dari definisi-definisi tersebut dapat perusahaan. Manajemen strategi
disimpulkan bahwa pengukuran kinerja biasanya dihubungkan dengan
adalah tindakan pengukuran yang pendekatan manajemen yang integratif
dilakukan terhadap berbagai aktivitas yang mengedepankan secara bersama-
dalam suatu rantai nilai yang ada pada sama seluruh elemen, seperti
perusahaan. Hasil pengukuran tersebut perencanaan, pelaksanaan, dan
kemudian digunakan sebagai umpan balik pengendalian sebuah strategi bisnis
yang dapat memberikan informasi tentang (Ward, 1993).
prestasi pelaksanaan suatu rencana dan Tujuan utama dari manajemen
titik dimana perusahaan memerlukan strategi adalah untuk mengidentifikasi
penyesuaian-penyesuaian atas aktivitas mengapa dalam persaingan beberapa
rencana dan pengendalian. perusahaan bisa sukses sementara
sebagian lainnya mengalami kegagalan.
Dengan munculnya paradigma baru
Peran Manajemen Strategi (Mulyadi,
dimana bisnis harus digerakkan oleh
2001) adalah (1) trendwatching dan
kepentingan pelanggan, maka dibutuhkan
invisioning, (2) penerjemahan visi dan
suatu sistem pengukuran kinerja yang
strategi ke dalam rencana tindakan, dan
efektif dengan syarat-syarat yang
(3) pengelolaan sumberdaya untuk
menurut Dearden 1992 dalam Yuwono et
mewujudkan visi organisasi, melalui
al. (2004):
pendekatan yang bersifat holistik dan
1) Didasarkan pada masing-masing sistemik. Alasan akan perlunya
aktivitas dan karakteristik organisasi pendekatan sistem dalam pelaksanaan
itu sendiri sesuai perspektif manajemen strategi (Mulyadi, 2001)
pelanggan; adalah (1) untuk menghadapi lingkungan
2) Evaluasi atas berbagai aktivitas, bisnis yang kompleks dan turbulen, (2)
menggunakan ukuran-ukuran perencanaan dan implementasi rencana
kinerja yang telah divalidasi oleh membutuhkan konsensus, dan (3)
pelanggan; keluaran suatu organisasi bersifat maya
dan tidak terstruktur. Adapun proses
3) Sesuai dengan seluruh aspek kinerja manajemen strategi diawali oleh
aktivitas yang mempengaruhi pengamatan lerhadap lingkungan
pelanggan, sehingga menghasilkan eksternal dan internal perusahaan,
penilaian yang komprehensif; dilanjutkan dengan formulasi strategi,
4) Memberikan umpan balik untuk implementasi strategi, serta diakhiri oleh
membantu seluruh anggota evaluasi dan pengendalian( Wheelen dan
organisasi mengenali masalah- Hunger, 1992).
masalah yang ada kemungkinan
perbaikannya.
Dalam mencapai tujuan evaluasi
kinerja yang efisien dan efektif maka
Oktavina, Model Manajemen… 91
METODE PENELITIAN upaya memberi kepuasan kepada
pelanggan. Proses desain ulang sistem
Model evaluasi kinerja yang usaha secara menyeluruh diperlukan
dibangun menggunakan pendekatan dalam membantu pihak manajemen
sistem manajemen strategis yang mengatur elemen-elemen yang
didasarkan pada sumberdaya, dibutuhkan dalam menyaring,
pengetahuan dan resiko. Strategi berbasis mendefinisikan, dan menyebarkan
sumberdaya dan pengetahuan digunakan perbaikan pada setiap level dari sistem
untuk mentransformasi data menjadi usahanya, sehingga pengusaha mampu
pengetahuan yang berkaitan dengan mengevaluasi respon potensial dalam
proses perbaikan kinerja, sedangkan menghadapi kebutuhan pelanggan yang
strategi berbasis resiko dimaksudkan universal. Disamping itu teknik
untuk menghadapi ketidakpastian kondisi perbaikan kinerja yang digunakan harus
lingkungan internal dan eksternal mampu menempatkan keterbatasan
perusahaan. Observasi lapangan sumberdaya dan kondisi perusahaan
dibutuhkan untuk proses identifikasi sebagai dasar prioritas perbaikan yang
terhadap indikator-indikator kinerja dan terarah dan kontinyu (Cohen, 1995).
karakteristik teknis UMK. Pendekatan Integrasi model manajemen strategi
survai pakar dilakukan untuk evaluasi kinerja yang dirancang
mengakuisisi pengetahuan dari pakar diharapkan mampu memberikan hasil
mengenai indikator kinerja kunci. evaluasi kinerja yang akurat, lengkap
Teknik pengukuran kinerja yang dengan rekomendasi perbaikannya.
menempatkan pelanggan sebagai Penelitian dilakukan melalui empat
indikator utama setelah keuangan tahapan yang terdiri atas studi
dibutuhkan untuk menelusuri kinerja pendahuluan, identifikasi input model
harapan pelanggan sehingga akan evaluasi kinerja, tahap perancangan
membawa perusahaan lebih dekat pada model evaluasi kinerja, implementasi
pelanggannya dan membuat seluruh model evaluasi kinerja dan penarikan
orang dalam organisasi terlibat dalam suatu kesimpulan (Gambar 1).
92 Jurnal Ekonomi Bisnis No. 2 Vol. 14, Agustsu 2009
STUDI Studi Literatur dan Observasi Lapangan
PENDAHULUAN
Variabel, Faktor, dan Uji Validitas dan Variabel, Faktor, dan
Indikator Kebutuhan Reliabilitas Indikator Karakteristik
Stake Holder Kinerja Teknis Kinerja Usaha
Usaha
Indikator Penting
Kinerja Usaha
IDENTIFIKASI Identifikasi Identifikasi Identifikasi Alternatif
INPUT (SURVAI Indikator Karakteristik Rekomendasi
PAKAR) Kinerja Kunci Teknis Standar Perbaikan Kinerja
(IKK) (KTS) UMK
Penentuan
Penentuan Bobot Penentuan Penentuan Ting- Tingkat
Indikator Kinerja Tingkat Hubungan kat Hubungan Kepentinga
Kunci antara IKK dan Antar Karakteristik n
KTS Teknis Perbaikan
IKK
Penentuan
PERANCANGAN Model Target
MODEL EVALUA- Pengukuran Kinerja
SI KINERJA UMK Kinerja UMK
MAKANAN
RINGAN
Model Perbaikan
Kinerja UMK
Level kinerja
Peramalan Nilai
IMPLEMENTASI Kinerja Akibat
DAN Perubahan Indikator Rekomendasi
KESIMPULAN lingkungan Eksternal Perbaikan Kinerja
Yang Bersifat Makro UMK
Pada Masa Yang
Akan Datang
Gambar 1. Tahapan Penelitian Perancangan Model manajemen Strategis Evaluasi
Kinerja UMK HASIL DAN PEMBAHASAN
Makanan Ringan
HASIL DAN PEMBAHASAN mengikuti model manajemen strategis
(Jauch and Glueck, 1992; Child, 1997;
Analisis Sistem David, 1998; Hunger dan Wheelen,
2001). Untuk itu dibutuhkan suatu
Identifikasi variabel, dimensi, dan kerangka yang menjadi dasar dalam
indikator kinerja UMK makanan ringan pengukuran kinerja yang mampu
Oktavina, Model Manajemen… 93
mengakomodir seluruh aspek dalam suatu lingkungan perusahaan (Christopher,
UMK makanan ringan, meliputi aspek 1993), dan kinerja yang berkaitan dengan
lingkungan eksternal, lingkungan kebijakan yang merupakan hasil survai
internal, rencana strategis, keuangan, terhadap pakar, untuk mengakuisisi
pelanggan, proses bisnis internal, dan pengetahuan dari pakar mengenai faktor-
pembelajaran dan pertumbuhan (Kaplan faktor yang perlu diperhatikan dalam
dan Norton (1996), yang membentuk sebuah proses evaluasi kinerja. Pada
hubungan sebab akibat yang pada penelitian ini pakar berasal dari empat
akhirnya menjadi model dalam evaluasi kelompok yang relevan dengan materi
kinerja UMK makanan ringan (Gambar penelitian, meliputi praktisi UMK
2). pengolahan keripik pisang, pakar sistem
Identifikasi karakteristik teknis dan pemodelan, pakar tekonologi proses
UMK makanan ringan didasarkan pada pengolahan keripik pisang, dan pakar
model kunci keberhasilan kinerja yang yang berasal dari unsur pemerintah
terdiri atas kinerja operasi perusahaan, (Kementrian Usaha Kecil dan Menengah,
kinerja manajemen sumberdaya Departemen Perindustrian dan Dinas
perusahaan, kinerja hubungan dengan Perindustrian dan Usaha Kecil).
+
Kemampuan
Proses Bisnis + Pengetahuan,
Internal
+ + pembelajarand
an
pertumbuhan +
+
Lingkungan
Eksternal + + +
Finansial + +
+ + -
- +
Pelanggan
Lingkungan +
Internal +
+
Perencanaan
+ + + +
- Strategis
Kinerja UMK
Makanan
+ Ringan +
+
Gambar 2. Diagram Lingkar Sebab Akibat Manajemen Strategis Evaluasi kinerja UMK
Makanan Ringan
Untuk menghasilkan model yang terdapat pada perumusan strategi
evaluasi kinerja yang efektif dibutuhkan evaluasi kinerja ke dalam konsep kotak
deskripsi skematis sistem melalui gelap (black box) mengikuti alur input,
interpretasi terhadap variabel-variabel proses, output (Gambar 3).
94 Jurnal Ekonomi Bisnis No. 2 Vol. 14, Agustsu 2009
Input Tak Terkendali: Output yang dikehendaki:
-Harga bahan baku Lingkungan
- Lingkungan Eskternal - Pendapatan UMK
-Harga pasar produk - Lingkungan Internal - Keuntungan UMK
-Keinginan pelanggan
Sistem Evaluasi Kinerja
Usaha Mikro dan Kecil
Input Terkendali: Makanan Ringan Output yang tidak dikehendaki:
- Keuangan Perusahaan - Kebutuhan investasi umk
- Kemampuan Proses Bisnis meningkat
Internal
- Pertumbuhan dan Pembelajaran
- Biaya pengendalian proses
- Rencana Strategis dan manajemen kinerja
- karakteristik Teknis meningkat
- Kapasitas Produksi
- Harga Jual Produk
Pengendalian Sistem Evaluasi
Kinerja UMK Makanan Ringan
Gambar 3. Diagram Input-Output Sistem Manajemen Strategis Evaluasi kinerja
Usaha Mikro dan Kecil Makanan Ringan.
Pemodelan Sistem menghasilkan uang, motivasi pemilik
perusahaan, pengembangan modal,
Rancang bangun model evaluasi tanggung jawab terhadap pelanggan, dan
UMK makanan ringan dirancang dalam penerapan standar kualitas.
bentuk sistem manajemen ahli, yang Identifikasi terhadap indikator dari
dibangun atas sistem manajemen basis setiap dimensi yang mempengaruhi
data, sistem manajemen basis model, dan kinerja UMK makanan ringan diperoleh
sistem manajemen basis pengetahuan dari hasil elaborasi dari studi literatur,
(Gambar 4). obervasi lapangan, dan survai pakar,
menghasilkan 116 alternatif indikator
Identifikasi Karaktersitik Teknis dan kinerja. Hasil uji validasi dan realiabitas
IKK Kinerja UMK Makanan Ringan menghasilkan 46 indikator. Berdasarkan
hasil wawancara mendalam dengan para
Berdasarkan hasil identifikasi pakar serta teknik Ordered Weighted
terhadap karaktersitik teknis UMK Averaging (OWA) Operator diperoleh 22
makanan ringan yang telah dilakukan, indikator kinerja kunci (IKK) yang
maka ditetapkan 25 karakteristik teknis terdistribusi merata pada tujuh perspektif
kinerja UMK makanan ringan. Dari hasil kinerja, dan akan dijadikan dasar dalam
tersebut dilakukan penentuan pengukuran kinerja UMK makanan
karakteristik teknis standar kinerja ringan. IKK terdiri atas skala usaha, harga
dilakukan melalui pengujian dengan produk relatif terhadap substitusi, kualitas
menggunakan teknik Ordered Weighted produk, harga produk relatif terhadap
Averaging (OWA) Operator (Yager, kompetitor, pembagian tugas dan
1993) sehingga menghasilkan sepuluh wewenang, trasferabilitas, replikabilitas,
(10) karaktersitik teknis yang menjadi penambahan pelanggan baru, penuruan
standar kinerja UMK makanan ringan, biaya produksi/th, peningkatan
yaitu target penjualan, penciptaan produk pendapatan/th, tingkat pertumbuhan
baru, pemasaran produk baru, penurunan penjualan/th, biaya per unit produk,
kesalahan dalam proses, hasil (output) jumlah pelanggan yang dapat
per satuan modal, kemampuan dipertahankan/th, tingkat kepuasan
Oktavina, Model Manajemen… 95
pelanggan, kelengkapan atribut produk, tingkat kemampuan pekerja, tingkat
jumlah produk baru/th, tingkat kerusakan motivasi pekerja, dan tingkat
barang/th, jumlah bahan terbuang/th, pemberdayaan pekerja.
Data Model Pengetahuan
Sistem Manajemen Basis
Sistem Manajemen Basis Data Sistem Manajemen Basis Model Pengetahuan
1. Data variabel, dimensi, dan 1. Sub model penentuan IKK dan KTS 1. Pengetahuan mengenai IKK
indikator kinerja kunci UMK. (OWA Operator) UMK makanan ringan
2. Data variabel, dimensi, dan 2. Sub model penentuan bobot dan 2. Pengetahuan mengenai
indikator karakteristik teknis. prioritas indikator kinerja kunci dan karakteristik teknis kinerja
3. Data bobot kepentingan IKK UMK best practices in the class (Fuzzy UMK
keripik pisang. AHP) 3. Pengetahuan hirarki kriteria
4. Data skor kepentingan perbaikan 3. Sub model pengukuran kinerja dan alternatif bobot prioritas
IKK (Balanced score card) indikator kinerja kunci UMK
5. Data tingkat hubungan antar 4. Sub model perbaikan kinerja (Quality 4. Pengetahuan hirarki best
karakteristik teknis UMK makanan Function Deployment) practices in the class di
ringan. 5. Sub model simulasi evaluasi prediktif UMK pengolahan keripik
6. Data nilai hubungan antara IKK (deteksi dini) nilai kinerja berdasarkan pisang
dengan karakteristik teknis UMK perubahan indikator kinerja yang 5. Perngetahuan mengenai
makanan ringan. berasal dari lingkungan eksternal hubungan antara perubahan
(Jaringan Syaraf Tiruan). indikator dari lingkungan
eksternal yang bersifat
makro terhadap nilai kinerja.
6. Pengetahuan rekomendasi
Sistem Pengolahan Perbaikan Kinerja UMK
Terpusat
Sistem Manajemen Dialog
Pengguna
Gambar 4. Konfigurasi Model Manajemen Strategis Evaluasi Kinerja Usaha Mikro dan
Kecil Makanan Ringan
Perancangan Model Pengukuran lingkungan internal (20,605%), rencana
Kinerja UMK Makanan Ringan strategis (15,89%), keuangan (2,64%),
pelanggan (3,23,23%), proses bisnis
Pengukuran kinerja mengikuti internal (5,06%), pertumbuhan dan
kaidah-kaidah teknik Balanced pembelajaran (9,09%), dengan rasio
Scorecard. Tahap awal proses konsistensi sebesar 0,09. Pada level
pengukuran dimulai dengan penentuan alternatif juga dihasilkan bobot untuk
bobot kepentingan dari masing-masing masing-masing IKK.
variabel (perspektif), dimensi, indikator Tahap kedua dalam proses
kinerja kunci, serta target dengan teknik pengukuran kinerja dengan teknik
fuzzy AHP. Bobot ini kemudian Balanced Scorecard adalah menentukan
diterjemahkan ke dalam bentuk linguistic skor indikator kinerja kunci untuk UMK
label preference fuzzy non numeric yang menjadi sasaran pengukuran.
(Mikhailov L., 2003). Kedua puluh dua Penilaian skor tersebut berdasarkan
IKK terdistribusi pada perspektif kriteria, yaitu: skor 1 jika indikator
lingkungan eksternal (43,49%), kinerja kunci dinilai kurang baik, skor 2
96 Jurnal Ekonomi Bisnis No. 2 Vol. 14, Agustsu 2009
jika indikator kinerja kunci dinilai cukup positif dari kiri ke kanan, nilai 1 berarti
baik, skor 3 jika indikator kinerja kunci berpengaruh sedang positif dari kanan ke
dinilai baik. Skor indikator kinerja kunci kiri, nilai 0 berarti tidak berpengaruh,
pada UMK yang sedang diukur dinilai nilai -1 berarti berpengaruh sedang
berdasarkan nilai target maksimum atau negatif dari kanan ke kiri, nilai -2 berarti
minimum yang hendak dicapai, dengan berpengaruh kuat negatif dari kiri ke
menggunakan nilai yang dikembangkan kanan. Data tersebut kemudian diolah
dari referensi yang berasal dari best dengan menggunakan teknik OWA
practices in the class yang dihasilkan Operator, menghasilkan bobot
dengan teknik Fuzzy AHP dan elisitasi kepentingan perbaikan indikator kinerja
pendapat pakar. kunci. Tahap berikutnya adalah
Tahap ketiga adalah penentuan penentuan hubungan antara indikator
evel perspektif kinerja merupakan nilai kinerja kunci dengan karakteristik teknis
yang dihasilkan dalam suatu pengukuran diikuti dengan penentuan penentuan
kinerja. Level kinerja ditetapkan untuk hubungan antar karakteristik teknis
masing-masing perspektif kinerja dengan dengan menggunakan matriks korelasi.
penilaian: jika nilai pengukuran Urutan tingkat prioritas merupakan
perspektif antara 0 dan 1, 99 maka data kuantitatif yang diperoleh dari hasil
kinerja perspektif dinilai kurang baik, jika perhitungan secara sistematis antara nilai
nilai pengukuran perspektif antara 2,00 hasil hubungan antara indikator kinerja
dan 2,99 maka kinerja perspektif dinilai kunci dengan karakteristik teknis dan
cukup baik, jika nilai pengukuran nilai bobot indikator kinerja kunci. Nilai
perspektif ≥ 3,00 maka kinerja perspektif prioritas karakteristik teknis (S)
dinilai baik. merupakan nilai yang mengisi kolom-
kolom pada pembentukan rumah kualitas.
Perancangan Model Evaluasi Kinerja Rekomendasi perbaikan diperoleh
UMK Makanan Ringan berdasarkan kajian teoritis yang
dielaborasi dengan pendapat pakar
Tahap awal model evaluasi kinerja melalui wawancara mendalam (in depth
UMK dimulai dengan penentuan tingkat interview) untuk setiap kemungkinan
hubungan antar karakteristik teknis karakteristik teknis yang menjadi prioritas
diperoleh dari elisitasi terhadap pendapat perbaikan. Hasil rancangan model
pakar mengikuti kaidah penilaian dengan manajemen strategi evaluasi kinerja
menggunakan diagram matriks dan UMK makanan ringan dapat dilihat pada
pembobotan dengan pendekatan simbol Gambar 5.
tingkat pengaruh teknis dengan arah,
yaitu: nilai 2 berarti berpengaruh kuat
Target Karakteristik Rekomendasi
Kinerja Teknis Standar Perbaikan
Kinerja UMK Kinerja
Bobot IKK Perspektif:
- Lingkungan
Internal Tahap Prioritas Penentuan
Tahap Perbaikan Rekomendasi
- Lingkungan Pengukuran
Eksternal Kinerja UMK Perbaikan
Kinerja UMK Kinerja
- Rencana Strategis


Use: 0.3719