• LAPORAN MODUL PEMBELAJARAN BERBASIS SCL


  •   
  • FileName: Pengantar.pdf [preview-online]
    • Abstract: proses sosial, tindakan sosial dan interaksi social, menjelaskan syarat-syarat terjadinya ... Dengan konsep interaksi sosial, ia memberikan batasan. proses sosial sebagai pengaruh ...

Download the ebook

LEMBAGA KAJIAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN
(LKPP)
LAPORAN MODUL PEMBELAJARAN BERBASIS SCL
PENDEKATAN ACCELERATED LEARNING
DAN E-LEARNING PROCES
PADA MATAKULIAH PENGANTAR SOSIOLOGI
DIAJUKAN OLEH :
SAKARIA J.ANWAR,S.Sos,M.Si
Dibiayai oleh Dana DIPA Universitas Hasanuddin
Sesuai dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan
Nomor : 469/H4.23/PM.05/2008 Tanggal 04 Januari 2008
JURUSAN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
FEBRUARI 2008
LEMBAGA KAJIAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN
(LKPP)
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN MODUL PEMBELAJARAN
PROGRAM TRANSFORMASI DARI TEACHING KE LEARNING
UNIVERITAS HASANUDDIN 2008
PENDEKATAN ACCELERATED LEARNING
DAN E-LEARNING PROCES
PADA MATAKULIAH PENGANTAR SOSIOLOGI
Penanggung Jawab : Sakaria J.Anwar, S.Sos, M.Si
NIP. : 132 319 460
Pangkat/Golongan : III/b
Nomor HP. : 081 543 188 455
Jangka waktu kegiatan : 1 (satu) bulan
Mulai 04 Januari 2006 s/d 04 Pebruari 2008
Biaya yang diusulkan : Rp. 4.000.000,-
(Empat juta rupiah)
Makassar, 04 Pebruari 2008
Mengetahui :
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Hasanuddin
Dekan,
Ub. Pembantu Dekan I Pembuat Modul,
Dr. M. Kautsar Bailusy, MA Sakaria J.Anwar, S.Sos, M.Si
Nip. 130 939 998 Nip. 132 319 460
LEMBAGA KAJIAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN
(LKPP)
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN MODUL PEMBELAJARAN
PROGRAM TRANSFORMASI DARI TEACHING KE LEARNING
UNIVERITAS HASANUDDIN 2008
PENDEKATAN ACCELERATED LEARNING
DAN E-LEARNING PROCES
PADA MATAKULIAH PENGANTAR SOSIOLOGI
Penanggung Jawab : Sakaria J.Anwar, S.Sos, M.Si
NIP. : 132 319 460
Pangkat/Golongan : III/b
Nomor HP. : 081 543 188 455
Jangka waktu kegiatan : 1 (satu) bulan
Mulai 04 Januari 2006 s/d 04 Pebruari 2008
Biaya yang diusulkan : Rp. 4.000.000,-
(Empat juta rupiah)
Makassar, 04 Pebruari 2008
Mengetahui :
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Hasanuddin
Dekan, Pembuat Modul,
Deddy T.Tikson, Ph.D Sakaria J.Anwar, S.Sos, M.Si
Nip. 130 906 977 Nip. 132 319 460
KATA PENGANTAR
Setelah melalui usaha yang sungguh-sungguh akhirnya penulisan modul ini dapat
dirampungkan dalam bentuknya sebagaimana yang ada di depan para pembaca saat ini.
Penyelesaian modul ini tidak terlepas dari adanya berkah dan kasih sayang Allah Swt.
Karena itu maka sepatutnyalah penulis mengucapkan puji syukur kehadirat-Nya. Peran
yang juga patut penulis beri apreiasi yang tinggi atas penyelesaian mudul ini adalah
adanya bantuan terutama dari LKPP baik secara kelembagaan maupun perindividu,
demikian pula dari teman-teman sejawat atas segala dorongan dan arahannya selama ini.
Atas segala bantuan dan dedikasi yang tinggi tersebut, penulis menyampaikan terima
kasih yang sebesar-besarnya.
Segala upaya penulis telah tempuh dengan sungguh-sungguh dalam rangka
menampilkan modul ini dengan sebaik-baiknya, namun perlu disadari bahwa penulis
hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kekeliruan dan kesalahan. Karenanya
mungkin modul ini masih jauh dari kesempurnaan sebagaimana harapan kita semua.
Untuk itu saran-saran yang bersifat konstruktif dalam rangka menutupi kelemahan dan
kekurangan yang ada dalam modul ini, penulis terima dengan hati terbuka.
Atas saran dan kritikan yang konstruktif tersebut penulis menyampaikan ucapan
terima kasih yang setinggi-tinginya. Semoga karya yang sangat sederhana ini dapat
menjadi bagian dari sebuah nyala lilin yang menerangi lingkungan sekitarnya, sehingga
kehadirannya merupakan bagian dari kebutuhan para pencari dan pengembang ilmu
pengetahuan.
Makassar, 04 Februari 2008
Penulis,
Drs. Sakaria J.Anwar, M.Si
RINGKASAN
Modul merupakan salah satu alat bantu bagi dosen dalam rangka kelancaran proses
pembelajaran terlebih dengan model pembelajaran yang dirancang dengan system SCL.
Modul ini dibuat bukan hanya dalam rangka pemenuhan tugas yang ditelorkan oleh
LKPP, akan tetapi lebih jauh dari itu adalah dalam rangka pemenuhan salah tugas utama
sebagai dosen.
Modul ini berturut-turut membahas tentang ; Sejarah dan Konsep Sosiologi,
Proses-proses Sosial, Lembaga-lembaga Sosial dan Stratifikasi Sosial. Pada pokok
bahasan sejarah dan konsep sosiologi akan dibahas secara runtut tentang ; menjelaskan
sejarah lahirnya sosiologi dan konsep sosiologi, menjelaskan obyek kajian dan metode
sosiologi, membedakan tokoh-tokoh sosiologi modern klasik, modern, dan post
modernisme. Pada pokok bahasan proses-proses social dibahas berturut-turut makna
proses sosial, tindakan sosial dan interaksi social, menjelaskan syarat-syarat terjadinya
interaksi social, membedakan bentuk-bentuk interaksi sosial. Pada pokok bahasan
lembaga-lembaga social membahas tentang ; pengertian lembaga sosial, norma dan nilai,
dan bentuk/macam lembaga-lembaga social yang ada dalam masyarakat. Dan yang
terakhir pada pokok bahasan stratifikasi social secara berturut-turut membahas tentang ;
pengertian stratifikasi social, ukuran-ukuran stratifikasi sosial, unsur-unsur stratifikasi
social, dan sifat-sifat stratifikasi social.
Untuk kelengkapan modul ini selanjutnya kedepan akan ditambah modul-modul
lain sebagai lanjutan dari modul ini dalam rangka melengkapi materi pembelajaran pada
makatkuliah pengantar sosiologi. Dimana keseluruhan dari materi lanjutan tersebut telah
ada pada penulis. Mudah-mudahan dalam waktu dekat penulis mempunyai kesempatan
dan akan lebih termotivasi jika kelanjutan dari modul ini mendapat dukungan terutama
dana dari berbagai pihak khususnya dari Unhas sebagai supporting utama.
Tujuan Umum :
Setelah mempelajari materi ini mahasiswa diharapkan dapat memahami dan
menjelaskan sejarah lahirnya dan konsep sosiologi secara umum.
Tujuan Khusus :
Setelah mempelajari materi ini mahasiswa diharapkan dapat :
1. Menjelaskan sejarah lahirnya sosiologi dan konsep sosiologi
2. Menjelaskan obyek kajian dan metode sosiologi
3. Membedakan tokoh-tokoh sosiologi modern klasik, modern, dan post modernisme
SEJARAH DAN KONSEP SOSIOLOGI
A. Sejarah Lahirnya Sosiologi
Menurut sejarah, lahirnya sosiologi sangat berkaitan dengan terjadinya perubahan
sosial masyarakat di Eropa Barat pada masa Revolusi Industri (Inggris) dan Revolusi
Sosial (Prancis). Kedua revolusi ini padi awalnya diharapkan membawa kehidupan yang
modern bagi kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Namun, pada kenyataannya,
revolusi menyebabkan timbulnya berbagai kekacauan dan disharmoni hubungan antar
warga masyarakat. Dengan kata lain, terjadi kesenjangan antara apa yang diharapkan dan
apa yang ada (Sitorus, 2000 : 5).
Menurut Laeyendecker (1983 : 11-43), kelahiran sosiologi selain disebabkan oleh
kedua revolusi di atas, juga terkait dengan serangkaian perubahan angka panjang yang
melanda Eropa Barat di abad pertengahan. Proses perubahan jangka panjang yang
diidentifikasi Laeyendecker sebagai pendorong lahirnya sosiologi ialah : (1) tumbuhnya
kapitalisme pada akhir abad ke 15, (2) perubahan di bidang sosial dan politik, (3)
perubahan berkenaan dengan reformasi Martin Luther, (4) meningkatnya individualisme,
(5) lahirnya ilmu pengetahuan modern, dan (6) berkembangnya kepercayaan pada diri sendiri.
Sementara itu, Ritzer (1992: 6-9) menjelaskan, bahwa kekuatan sosial yang
mendorong pertumbuhan sosiologi ialah: (1) revolusi politik, (2) revolusi industri dan
munculnya kapitalisme, (3) munculnya sosialisme, (4) urbanisasi, (5) perubahan
keagamaan, dan (6) pertumbuhan ilmu.
Ibnu Khaldun (1333-1406), sarjana Arab yang lahir di Tunis adalah tokoh politik
praktis yang ternama dan salah seorang Bapak Sosiologi abad XIV serta dikenal sebagai
pemikir besar dunia. Bukunya “Mukaddimah” merupakan karyanya yang monumental
mengenai sejarah umat manusia dalam bahasan sosiologi (Pelly dan Menanti, 1994).
“Mukaddimah” mengemukakan pengaruh lingkungan fisik terhadap manusia,
bentuk organisasi sosial primitif dan modern, hubungan antar kelompok, dan berbagai
fenomena kultural. Ibnu Khaldun memperkenalkan enam prinsip landasan sosiologis
sebagai berikut :
1. Fenomena sosial mengikuti pola-pola yang sah menurut hukum, walaupun teratur,
tetapi sifatnya tidak kaku dan dapat dikenali dan dilukiskan.
2. Hukum-hukum perubahan itu berlaku pada tingkat kehidupan masyarakat, bukan
pada tingkat individual. Dengan kata lain, kekuatan sosial akan dapat mengatasi
kemelut yang bersumber dari tingkah laku individu-individu.
3. Hukum-hukum proses sosial harus ditemukan melalui pengumpulan banyak data dan
dengan mengamati hubungan antar berbagai variabel (landasan ini merupakan dasar
empiris bagi pengembangan ilmu sosial di masa datang).
4. Hukum-hukum sosial yang serupa, berlaku dalam masyarakat yang satu, tetapi untuk
yang lain mungkin akan sangat berbeda.
5. Masyarakat ditandai oleh perubahan. Tingkat perubahan antara masyarakat yang satu
dengan yang lain mungkin sangat berbeda.
6. Hukum-hukum yang berlaku terhadap perubahan bersifat sosiolog bukan bersifat
biologis atau bersifat alamiah. Menurut Ibnu Khaldun, daya dorong perubahan sosial
adalah sesuatu yang dapat dipahami menurut fenomena sosial, seperti solidaritas,
kepemimpinan, mata pencaharian, dan tingkat kemakmuran, bukan variabel-variabel
fisik, seperti kesuburan tanah atau iklim.
Ibnu Khaldun berangkat dari asumsi dasar bahwa manusia adalah makhluk sosial,
oleh sebab itu organisasi sosial menurutnya adalah penting. Dan organisasi sosial ini,
manusia dapat berkembang sebagai makhluk sosial dan politik. Semua ini menunjukkan
bahwa manusia dalam kehidupan bermasyarakat hanya dapat dipenuhi melalui kerja sama
antar sesamanya.
Istilah sosiologi sendiri digunakan pertama kali oleh Auguste Comte (1789-1857),
kemudian dikembangkan oleh Karl Marx (1818-1883), Herbert Spencer (1820-1903),
Emile Durkheim (1858-1917), Max Weber (1864-1920), dan tokoh-tokoh sosiologi yang
lain.
Gagasan tentang masyarakat sebelum Comte dan Durkheim telah dikemukakan
oleh filsuf besar zaman Yunani Kuno, seperti Plato (429-347 S.M), dan Aristoteles (384-
322 SM). Keduanya telah berbincang mengenai masyarakat dan negara. Gagasan mereka
pada umumnya masih bersifat normatif, yakni mendeskripsikan masyarakat dan negara
sebagai sesuatu yang bertindak dengan motivasi kebaikan.
1. Auguste Comte (1798-1857)
Perkataan sosiologi pertama kali digunakan oleh Auguste Comte, seorang ahli
filsafat kebangsaan Prancis. Oleh karena itu, tokoh ini lazim dikenal sebagai Bapak
Sosiologi. Beberapa sumbangan penting Comte terhadap sosiologi, antara lain
sebagai berikut.
a. Ia mengatakan bahwa ilmu sosiologi harus didasarkan pada pengamatan,
perbandingan, eksperimen, dan metode historis secara sistematis. Objek yang
dikaji pun harus berupa fakta (bukan harapan atau prediksi). Jadi, harus objektif
dan harus pula bermanfaat serta mengarah kepada kepastian dan kecermatan.
b. la menyumbangkan pemikiran yang mendorong perkembangan sosiologi yang
dikenal dengan hukum kemajuan manusia atau hukum tiga jenjang. Ia
mengatakan, bahwa dalam menjelaskan gejala alam dan gejala sosial, manusia
akan melewati tiga jenjang berikut ini.
1) Jenjang Teologi : Segala sesuatu yang dijelaskan dengan mengacu
kepada hal-hal yang bersifat adikodrati.
2) Jenjang Metafisika : Pada jenjang ini manusia memahami sesuatu dengan
mengacu kepada kekuatan-kekuatan metafisik atau
hal-hal yang abstrak.
3) Jenjang Positif : Gejala alam dan sosial di jelaskan dengan mengacu
kepada deskripsi ilmiah (jenjang ilmiah).
Karena memperkenalkan metode positif, Comte dianggap sebagai perintis
positivisme. Ciri metode positif ialah objek yang dikaji harus berupa fakta dan
kajian harus bermanfaat serta mengarah pada kepastian dan kecermatan. Sarana
yang menurut Comte dapat digunakan untuk melakukan kajian ialah : (1)
pengamatan, (2) perbandingan, (3) eksperimen, atau (4) metode historis. Mengapa
Comte berpandangan bahwa sosiologi harus menggunakan metode positif?
Karena dalam pandangannya, sosiologi harus merupakan ilmu yang sama
ilmiahnya dengan ilmu pengetahuan alam yang mendahuluinya. Menurut
hematnya, kegiatan kajian sosiologi yang tidak menggunakan metode
pengamatan, perbandingan, eksperimen ataupun historis bukanlah kajian ilmiah,
melainkan hanya renungan atau khayalan belaka.
c. Ia mengatakan bahwa sosiologi merupakan ‘ratu’ ilmu-ilmu sosial dan menempati
peringkat teratas dalam hierarki ilmu-ilmu sosial di atas astronomi, fisika, ilmu
kimia, dan biologi (Coser, 1977).
d. Ia membagi sosiologi ke dalam kedua bagian besar, yaitu statika sosial (social
statics) yang mewakili stabilitas tatanan sosial dan kemantapan serta dinamika
sosial (social dynamics) yang mewakili kemajuan dan perubahan sosial. Comte
menyatakan bahwa hubungan antara statika sosial dengan dinamika sosial dapat
disamakan dengan hubungan antara anatomi dan fisiologi.
Hingga kini pun, klasifikasi Comte ini masih tetap relevan. Dalam literatur
sosiologi, social statics banyak dikaji dengan melihat tatanan sosial yang ada,
misalnya kajian terhadap struktur sosial suatu masyarakat, hubungan antara suatu
institusi dan institusi lain, fungsi masing-masing institusi, dan sebagainya.
Namun, ada pula ahli sosiologi yang memusatkan perhatiannya pada social
dynamics, mengkaji perubahan Sosial, misalnya perubahan sosial yang melanda
negara barn setelah berakhirnya Perang Dunia II, arah perubahannya, dampaknya,
dan sebagainya.
2. Karl Marx (1818-1883)
Ia mengembangkan konsep sejarah perjuangan kelas, yaitu lahirnya kelompok
borjuis (kelompok yang menguasai alat-alat produksi) dan kelas proletar (kelompok
rakyat jelata yang tidak memiliki alat-alat produksi). Menurut Marx, kelompok
proletar akan memberontak melawan kelompok borjuis, kemudian melahirkan
sesuatu masyarakat tanpa kelas.
Meskipun ramalan Marx tidak pernah terwujud, namun pemikiran Max
mengenai stratifikasi sosial dan konflik tetap berpengaruh terhadap pemikiran
sejumlah besar ahli sosiologi. Sebagaimana para tokoh sosiologi lainnya, pemikiran
Marx pun dilatarbelakangi dan diilhami oleh perubahan sosial besar yang melanda
Eropa Barat sebagai dampak perkembangan pembagian kerja, khususnya yang terkait
dengan kapitalisme.
3. Herbert Spencer (1820-1903)
Herbert Spencer adalah orang Inggris yang menguraikan materi sosiologi
secara rinci dan sistematis. Menurutnya, objek sosiologi yang pokok adalah keluarga,
politik, agama, pengendalian sosial, dan industri. Termasuk pula asosiasi masyarakat
setempat, pembagian kerja, pelapisan sosial, sosiologi pengetahuan dan ilmu
pengetahuan, serta penelitian terhadap kesenian dan keindahan pada tahun 1876, ia
mengetengahkan sebuah teori tentang “evolusi sosial” yang hingga kini masih dianut,
walaupun di sana-sini ada perubahan. Ia juga menerapkan secara analog teori Darwin
mengenai “teori evolusi” terhadap masyarakat manusia. Ia yakin, bahwa masyarakat
mengalami evolusi dan masyarakat primitif ke masyarakat industri.
4. Emile Durkheim (1858-1917)
Emile Durkheim adalah salah seorang pelopor perkembangan sosiologi.
Menurut Durkheim, sosiologi meneliti lembaga-lembaga dalam masyarakat dan
proses-proses sosial. Kalau Comte dan ahli sosiologi lain yang mengikutinya
membagi sosiologi menjadi statika sosial dan dinamika sosial, maka dalam majalah
Lannee Sociologique, Durkheim dan rekan-rekannya memperkenalkan pembagian
sosiologi berdasarkan pokok bahasannya. Sosiologi mereka klasifikasikan menjadi
tujuh bagian.
1. Sosiologi Umum, yang mencakup kepribadian individu dan kelompok manusia.
2. Sosiologi Agama.
3. Sosiologi Hukum dan Moral, yang mencakup organisasi politik, sosial,
perkawinan, dan keluarga.
4. Sosiologi tentang Kejahatan.
5. Sosiologi Ekonomi, yang mencakup ukuran-ukuran penelitian dan kelompok
kerja.
6. Sosiologi Masyarakat, yang mencakup masyarakat perkotaan dan pedesaan.
7. Sosiologi Estetika
Durkheim merupakan seorang ilmuwan yang sangat produktif Karya
utamanya antara lain: The Division of Labor in society (karya pertamanya yang
berbentuk disertasi doktor); Rules of Sociological Method (yang menyoroti
metodologi yang digunakan dalam penelitian sosiologi); Suicide (membahas tentang
bunuh diri di berbagai kelompok masyarakat); Moral Education (1973); dan The
Elementary Forms of The Religious Life (1966).
Buku The Division of Labor in Society (1968) merupakan suatu upaya
Durkheim untuk mengkaji suatu gejala yang sedang melanda masyarakat, yaitu
tentang pembagian kerja. Durkheim mengemukakan, bahwa di bidang perekonomian,
seperti di bidang industri modern terjadi penggunaan mesin serta konsentrasi modal
dan tenaga kerja yang mengakibatkan pembagian kerja dalam bentuk spesialisasi dan
pemisahan okupasi yang semakin rinci. Gejala pembagian kerja tersebut dijumpai
pula di bidang perniagaan dan pertanian dan tidak terbatas pada bidang ekonomi,
tetapi melanda pula bidang-bidang kehidupan lain, seperti hukum, politik, kesenian,
dan bahkan juga keluarga. Tujuan kajian Durkheim ialah untuk memahami fungsi
pembagian kerja tersebut serta untuk mengetahui faktor penyebabnya (Durkheim,
1968: 39-46).
Durkheim melihat bahwa setiap masyarakat manusia memerlukan solidaritas.
Ia membedakan antara dua tipe utama solidaritas: solidaritas mekanik dan solidaritas
organik. Solidaritas mekanik merupakan suatu tipe solidaritas yang didasarkan atas
persamaan. Menurut Durkheim, solidaritas mekanik dijumpai pada masyarakat yang
masih sederhana, masyarakat yang dinamakannya “segmentil”. Pada masyarakat
seperti ini belum terdapat pembagian kerja yang berarti, apa yang dapat dilakukan
oleh seorang anggota masyarakat biasanya dapat dilakukan pula oleh orang lain.
Dengan demikian, tidak terdapat saling ketergantungan antara kelompok berbeda,
karena masing-masing kelompok dapat memenuhi kebutuhannya sendiri dan masing-
masing kelompok pun terpisah satu dengan yang lain. Tipe solidaritas yang
didasarkan atas kepercayaan dan setia kawan ini diikat oleh apa yang oleh Durkheim
dinamakan conscience collective (hati nurani kolektif) suatu sistem kepercayaan dan
perasaan yang menyebar merata pada semua anggota masyarakat.
Lambat laun, pembagian kerja dalam masyarakat - proses yang sekarang
dinamakan diferensiasi, spesialisasi - semakin berkembang sehingga solidaritas
mekanik berubah menjadi solidaritas organik. Pada masyarakat dengan solidaritas
organik, masing-masing anggota masyarakat tidak lagi dapat memenuhi semua
kebutuhannya sendiri, melainkan ditandai oleh saling ketergantungan yang besar
dengan orang atau kelompok lain. Solidaritas organik merupakan suatu sistem
terpadu yang terdiri atas bagian yang saling tergantung, laksana bagian suatu
organisme biologis. Berbeda dengan solidaritas mekanik yang didasarkan pada hati
nurani kolektif maka solidaritas organik didasarkan pada hukum dan akal.
Dalam buku Rules of Sociological Method (1965), Durkheim menawarkan
definisinya mengenai sosiologi. Menurut Durkheim, bidang yang harus dipelajari
sosiologi ialah fakta sosial, yaitu fakta yang berisikan cara bertindak, berpikir dan
merasakan yang mengendalikan individu tersebut. Untuk memperjelas definisi ini,
Durkheim mengemukakan bahwa fakta sosial adalah setiap cara bertindak yang telah
baku ataupun tidak, yang dapat melakukan pemaksaan dari luar terhadap individu.
Cara bertindak, berpikir dan berperasaan yang bagaimanakah yang menurut
Durkheim dapat mengendalikan individu, dapat memaksa individu ? Contoh yang
diberikan Durkheim mengenai fakta sosial ialah, antara lain hukum, moral,
kepercayaan, adat istiadat, tata cara berpakaian, dan kaidah ekonomi. Fakta sosial
tersebut mengendalikan dan dapat memaksa individu, karena bilamana individu
melanggarnya, ia akan terkena sanksi. Fakta sosial seperti inilah yang menurut
Durkheim menjadi pokok perhatian sosiologi dan buku ini memuat metode yang
harus ditempuh untuk mempelajari fakta sosial, misalnya metode untuk meneliti suatu
fakta-fakta sosial, untuk menjelaskan fungsi dan menjelaskan faktor penyebabnya.
Buku Suicide (1968) merupakan upaya Durkheim untuk menerapkan metode
yang telah dirintisnya dalam Rules of Sociological Method, untuk menjelaskan faktor
sosial yang menjadi penyebab terjadinya suatu fakta sosial yang konkret, yaitu angka
bunuh diri. Hal lain yang menarik dalam buku ini ialah bahwa usaha untuk
menjelaskan sebab-sebab angka bunuh diri itu dilakukannya dengan mengumpulkan
data kuantitatif, yang kemudian dianalisisnya dengan memakai teknik distribusi
frekuensi dan label silang - teknik yang hingga kini pun masih tetap digunakan untuk
meneliti suatu gejala serta hubungan antara suatu gejala dengan gejala lain.
5. Max Weber (1864-1920)
Menurut Max Weber, sosiologi sebagai ilmu berusaha memberikan pengertian
adalah tentang aksi-aksi sosial. Ia memberikan pengertian mengenai perilaku manusia
dan sekaligus menelaah sebab-sebab terjadinya interaksi sosial. Karya Max Weber
tentang perkembangan sosiologi, misalnya analisis tentang wewenang, birokrasi,
sosiologi agama, organisasi-organisasi ekonomi, dan sebagainya.
Max Weber lahir di Jerman pada tahun 1864. la belajar ilmu hukum di
Universitas Berlin dan Universitas Heidelberg dan pada tahun 1889 menulis disertasi
berjudul A Contribution to The History of Medieval Business Organizations. Setelah
menyelesaikan studinya, ia mengawali karierya sebagai dosen ilmu hukum - mula-
mula di Universitas Berlin, kemudian di Universitas Freiburg, dan setelah itu di
Universitas Heidelberg. Menjelang akhir masa hidupnya, Weber mengajar di
Universitas Wina dan Universitas Munich. Selain mengajar, ia pun berperan sebagai
konsultan serta peneliti. Semasa Perang Dunia I, ia mengabdi di angkatan bersenjata
Jerman.
Weber merupakan seorang ilmuwan yang sangat produktif dan menulis
sejumlah buku dan makalah. Salah satu bukunya yang terkenal ialah The Protestant
Ethic and The Spirit of Capitalism (1904). Dalam buku ini ia mengemukakan tesisnya
yang terkenal mengenai keterkaitan antara etika Protestan dengan munculnya
kapitalisme di Eropa Barat. Menurut Weber, muncul dan berkembangnya kapitalisme
di Eropa Barat berlangsung secara bersamaan dengan perkembangan sekte
Kalvinisme dalam agama Protestan. Argumen Weber adalah sebagai berikut: ajaran
Kalvinisme mengharuskan umatnya untuk menjadikan dunia tempat yang makmur -
sesuatu yang hanya dapat dicapai dengan kerja keras. Karena umat Kalvinis bekerja
keras, antara lain dengan harapan bahwa kemakmuran merupakan tanda baik yang
mereka harapkan dapat menurun mereka ke arah surga, maka mereka pun menjadi
makmur.
Namun, keuntungan yang mereka peroleh melalui kerja keras ini tidak dapat
digunakan untuk berfoya-foya atau bentuk konsumsi berlebihan lain, karena ajaran
Kalvinisme mewajibkan hidup sederhana dan melarang segala bentuk kemewahan
dan foya-foya. Sebagai akibat yang tidak direncanakan dan perangkat ajaran
Kalvinisme ini, maka para penganut agama ini menjadi semakin makmur karena
keuntungan yang mereka peroleh dan hasil usaha tidak dikonsumsikan, melainkan
ditanamkan kembali dalam usaha mereka. Melalui cara inilah, menurut Weber,
kapitalisme di Eropa Barat berkembang.
Sumbangan Weber yang tidak kalah pentingnya ialah kajiannya mengenai
konsep dasar sosiologi (Weber, 1964). Dalam uraian ini, Weber menyebutkan pula
bahwa sosiologi ialah ilmu yang berupaya memahami ‘tindakan sosial’. Ini nampak
dari definisi berikut ini : “Sociology … is a science which attempts the interpretive
understanding of social action in order thereby to arrive at a causal explanation of its
course and effects” (Weber, 1964:88). Di kemudian hari, tulisan ini menjadi acuan
bagi dikembangkannya teori sosiologi yang membahas interaksi sosial. Namun,
pendekatan sosiologi yang diusulkan Weber dalam tulisan ini ternyata tidak menjadi
tuntunan baginya untuk melihat masyarakat.
Berger mendefinisikan sosialisasi sebagai proses belajar seorang anak menjadi
seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat (a process by which a
child learns to be a participant member of society) (Berger, 1978:116). Definisi ini
disajikannya dalam suatu pokok bahasan berjudul society in man, dari sini tergambar
pandangannya bahwa melalui sosialisasi, masyarakat dimasukkan ke dalam manusia.
6. Pemikiran Mead
Salah satu teori peran yang dikaitkan dengan sosialisasi ialah teori George
Herbert Mead. Dalam teorinya yang diuraikan dalam buku Mind Self and Society
(1972), Mead menguraikan tahap pengembangan diri (self manusia. Manusia yang
barn lahir belum mempunyai diri. Diri manusia berkembang secara bertahap melalui
interaksi dengan anggota masyarakat lain. Menurut Mead, pengembangan diri
manusia ini berlangsung melalui beberapa tahap, yaitu tahap paly stage, tahap game
stage, dan tahap generalized other.
Sampai sekarang, pemikiran-pemikiran para tokoh sosiologi tersebut masih
digunakan dan dikembangkan. Di Indonesia, sosiologi hadir pada tahun 1950-an.
Tokoh-tokoh sosiologi di Indonesia antara Iain Selo Soemardjan, Soelaeman
Soemardi, dan Hasan Shadily.
B. Konsep Sosiologi
Ada beberapa pendapat sarjana yang telah mencoba untuk memberikan definisi
sosiologi, yaitu sebagai berikut.
1. Comte secara sederhana mendefinisikan sosiologi sebagai ilmu tentang masyarakat.
Sosiologi berupaya memahami kehidupan bersama manusia, sejauh kehidupan itu
dapat ditinjau atau diamati melalui metode empiris. Dalam sosiologi, masyarakat
dipandang sebagai unit dasar analisis, sedangkan varian lainnya, seperti keluarga,
politik, ekonomi, keagamaan. dan interaksinya merupakan subanalisis. Fokus
perhatian sosiologi adalah tingkah laku manusia dalam konteks sosial.
2. Peririm A. Sorokin menyatakan, bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari
hal berikut ini.
a. Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial
(misalnya antara gejala ekonomi dengan agama, keluarga dengan moral, hukum
dengan ekonomi, gerak masyarakat dengan politik, dan sebagainya).
b. Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non-sosial
(dasarnya gejala geografi, biologi, dan sebagainya).
c. Ciri-ciri umum daripada semua jenis gejala-gejala sosial.
3. McGee (1977) menjelaskan sosiologi sebagai berikut.
a. Sebagai studi tentang kelompok-kelompok manusia dan pengaruh mereka
terhadap perilaku individu.
b. Sebagai studi tentang tatanan sosial dan perubahan sosial.
c. Sebagai pencarian sebab-sebab sosial dan hal-hal, cara-cara di mana fenomena
sosial mempengaruhi perilaku manusia.
Minimal ada empat ciri yang dimiliki sosiologi, yaitu sebagai berikut :
a. Bersifat empiris, artinya ilmu pengetahuan tersebut didasari pada observasi
terhadap kenyataan dan akal sehat serta hasilnya tidak spekulatif.
b. Bersifat teoretis, artinya berusaha untuk menyusun abstraksi dan hasil-hasil
observasi. Abstraksi tersebut merupakan proses menteorikan berbagai
pengetahuan yang diperoleh melalui observasi.
c. Bersifat komulatif, artinya teori-teori sosiologi dibentuk atas teori-teori yang
sudah ada, dalam arti memperbaiki, memperluas, serta memperhalus teori-teori
yang lama.
d. Bersifat monetis, artinya aspek yang dipersoalkan bukanlah baik buruknya fakta
tertentu, tetapi tujuannya adalah untuk menjelaskan fakta tersebut secara teoretis
(Syarbaini, 2002: 10).
4. Roucek dan Warren mengemukakan, bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari
hubungan antara manusia dengan kelompok-kelompok.
5. William F. Ogburn dan Meyer F. Nimkoff berpendapat, bahwa sosiologi adalah
penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial.
6. J.A.A. van Doom dan C.J. Lammers mengemukakan. bahwa sosiologi adalah ilmu
pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang
bersifat stabil.
7. Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi mengatakan, bahwa sosiologi atau ilmu
masyarakat adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses sosial, termasuk
perubahan-perubahan sosial.
a. Struktur sosial adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok,
yaitu kaidah-kaidah sosial (norma-norma sosial), lembaga-lembaga sosial,
kelompok-kelompok sosial, serta lapisan-lapisan sosial.
b. Proses sosial adalah pengaruh timbal balik antara pelbagai segi kehidupan
bersama, umpamanya pengaruh timbal balik antara segi kehidupan ekonomi
dengan segi kehidupan politik, antara segi kehidupan hukum dengan segi
kehidupan agama, antara segi kehidupan agama dengan segi kehidupan ekonomi,
dan lain sebagainya. Dikatakan, bahwa salah satu proses sosial yang bersifat
tersendiri ialah dalam hal terjadinya perubahan-perubahan di dalam struktur
sosial.
8. Y.B.A.F Mayor Polak mengatakan, bahwa sosiologi adalah sebagai berikut.
a. Ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan, yakni antar
hubungan di antara manusia dengan manusia, manusia dengan kelompok,
kelompok dengan kelompok, baik formil maupun materiil, baik statis maupun
dinamis.
b. Sosiologi bukanlah mempelajari apa yang diharuskan atau apa yang diharapkan,
tetapi apa yang ada, maka dengan sendirinya pengetahuan tentang apa yang ada,
selanjutnya menjadi bahan untuk bertindak dan berusaha. Pada zaman ini, hampir
tidak ada satu bidang pun di mana orang tidak menggunakan dan menerapkan
hasil-hasil yang dikumpulkan oleh sosiologi (hasil penyelidikan sosiologi), bukan
saja dalam bidang ilmu-ilmu pengetahuan, tetapi pula dalam kehidupan
kemasyarakatan, misalnya dalam perekonomian, politik, manajemen,
pemerintahan, dan sebagainya.
9. Menurut Hassan Shadily, dalam bukunya Sosiologi Masyarakat Indonesia
menyebutkan, bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam
masyarakat dan menyelidiki ikatan-ikatan antar manusia yang menguasai kehidupan
itu.
10. Soerjono Soekanto mempersingkat definisi sosiologi sebagai ilmu sosial yang
kategoris, murni, abstrak, berusaha mencari pengertian-pengertian umum, rasional
dan empiris, serta bersifat umum.
Definisi menurut para ahli di atas memberikan batasan pengertian yang berbeda,
hal ini menggambarkan betapa luas dan rumitnya masyarakat sebagai objek kajiannya.
Namun, pada intinya definisi tersebut mempunyai persamaan, yaitu sosiologi
mempelajari hubungan atau interaksi antar manusia dalam masyarakat. Bila dirumuskan
dalam bahasa yang lebih sederhana, sosiologi adalah; ilmu yang mengkaji interaksi
manusia dengan manusia lain dalam kelompok (seperti keluarga, kelas sosial, atau
masyarakat) dan produk-produk yang timbul dari interaksi tersebut, seperti nilai, norma,
serta kebiasaan-kebiasaan yang dianut oleh kelompok atau masyarakat tersebut.
C. Objek Kajian Sosiologi
Definisi menurut para ahli di atas memberikan batasan pengertian yang berbeda,
hal ini menggambarkan betapa luas dan rumitnya masyarakat sebagai objek kajiannya.
Berdasarkan batasan di atas, definisi sosiologi mempunyai ciri-ciri :
a. sebagai ilmu yang mengkaji interaksi manusia dengan manusia lain;
b. dalam kelompok (seperti : keluarga, kelas sosial atau masyarakat); dan
c. produk-produk yang timbul dari interaksi tersebut, seperti nilai, norma, serta
kebiasaan-kebiasaan yang dianut oleh kelompok atau masyarakat tersebut.
Dari penjelasan di atas dapat dikatakan, bahwa objek studi ilmu kajian sosiologi
adalah masyarakat, yakni hubungan antara manusia dan proses sebab-akibat yang timbul
dari hubungan masyarakat. Pemahaman lebih lanjut tentang masyarakat dapat diperdalam
pada bab yang secara khusus membahas masyarakat.
D. Perhatian terhadap Masyarakat Sebelum Comte
Masa Auguste Comte dipakai sebagai patokan, oleh karena sebagaimana
dinyatakan di muka, Comte yang pertama kali memakai istilah atau pengertian
“Sosiologi”. Beberapa orang filosof Barat yang menelaah masyarakat secara sistematis
sebelum Comte adalah sebagai berikut (Soekanto, 2000: 23-25)
1. Plato (429-347 SM)
Plato adalah seorang filosof Romawi yang telah berhasil merumuskan suatu
teori tentang bentuk negara yang dicita-citakan, yang organisasinya didasarkan pada
pengamanan yang kritis terhadap sistem-sistem sosial yang ada pada zamannya. Plato
menyatakan, bahwa masyarakat sebenarnya merupakan refleksi dan manusia
perorangan. Suatu masyarakat akan mengalami kegoncangan, sebagaimana halnya
manusia perorangan yang terganggu keseimbangan jiwanya yang terdiri dari tiga
unsur, yaitu nafsu, semangat dan intelegensia. Intelegensia merupakan unsur
pengendali, sehingga suatu negara seyogyanya juga merupakan refleksi dari ketiga
unsur yang berimbang atau serasi tadi.
Dengan jalan menganalisis lembaga-lembaga di dalam masyarakat, Plato
berhasil menunjukkan hubungan fungsional antara lembaga-lembaga tersebut yang
pada hakikatnya merupakan suatu kesatuan yang menyeluruh. Dengan demikian,
Plato berhasil merumuskan suatu teori organisasi tentang masyarakat, yang mencakup
bidang-bidang kehidupan ekonomis dan sosial. Suatu unsur yang menyebabkan
masyarakat berdinamika adalah adanya sistem hukum yang identik dengan moral,
oleh karena didasarkan pada keadilan Friedlander, 1967).
2. Aristoteles (384-322 SM)
Aristoteles sebenarnya mengikuti sistem analisis secara organis dari Plato. Di
dalam bukunya; Politics, Aristoteles mengadakan suatu analisis yang mendalam
terhadap lembaga-lembaga politik dalam masyarakat. Pengertian politik
dipergunakannya dalam arti yang luas, yakni mencakup juga masalah-masalah
ekonomi dan sosial. Sebagaimana halnya dengan Plato, maka perhatiannya terhadap
biologi menyebabkan dia mengadakan suatu analogi antara masyarakat dengan
organisme biologis dan manusia. Di samping itu, Aristoteles menggarisbawahi
kenyataan, bahwa basis masyarakat adalah moral (etika dalam arti sempit).
3. Ibnu Khaldun (1332-1406)
Ia merupakan ahli filsafat Arab yang telah berhasil mengemukakan beberapa
prinsip pokok untuk menafsirkan kejadian-kejadian sosial dan peristiwa-peristiwa
dalam sejarah. Prinsip-prinsip yang sama akan dapat dijumpai bila ingin mengadakan
analisis terhadap timbul dan tenggelamnya negara-negara. Gejala-gejala yang sama
akan terlihat pada kehidupan masyarakat-masyarakat pengembara, dengan segala
kekuatan dan kelemahan-kelemahannya. Faktor yang menyebabkan bersatunya
manusia di dalam suku-suku, klan, negara, dan sebagainya adalah rasa solidaritas.
Faktor itulah yang menyebabkan adanya ikatan dan usaha-usaha atau kegiatan-
kegiatan bersama antara manusia.
4. Thomas More, Campanella, dan Machiavelli
Pada zaman Renaissance (1200-1600), tercatat nama-nama, seperti Thomas
More dengan Utopia-nya dan Campanella yang menulis City of The Sun. Mereka
masih sangat terpengaruh oleh gagasan-gagasan terhadap adanya masyarakat-
masyarakat yang ideal. Berbeda dengan mereka adalah N. Machiavelli (terkenal
dengan bukunya Il Principle), yang menganalisis bagaimana mempertahankan
kekuasaan. Untuk pertama kalinya politik dipisahkan dari moral, sehingga terjadi
suatu pendekatan yang mekanis terhadap masyarakat. Pengaruh ajaran Machiavelli
antara lain: suatu ajaran, bahwa teori-teori politik dan sosial memusatkan perhatian
pada mekanisme pemerintahan.
5. Hobbes (1588-1679)
Abad ketujuh belas ditandai dengan munculnya tulisan Hobbes (1588-1) yang
berjudul The Leviathan, yang ditandai dengan inspirasi-inspirasi hukum alam, fisika,
dan matematika. Dia beranggapan, bahwa dalam keadaan alamiah, kehidupan
manusia didasarkan pada keinginan-keinginan yang mekanis, sehingga manusia
selalu saling berkelahi. Akan tetapi, mereka mempunyai pikiran, bahwa hidup damai
dan tenteram adalah jauh lebih baik. Keadaan semacam itu baru dapat tercapai
apabila mereka mengadakan suatu perjanjian atau kontrak dengan pihak-pihak yang
mempunyai wewenang, yang akan dapat memelihara ketenteraman. Supaya keadaan
damai tadi terpelihara, maka orang-orang harus sepenuhnya mematuhi pihak yang
mempunyai wewenang tadi. Dalam keadaan demikian, masyarakat dapat berfungsi
sebagaimana mestinya.
Dapatlah dikatakan, alam pikiran pada abad ketujuh belas tadi masih ditandai
oleh anggapan-anggapan, bahwa lembaga-lembaga kemasyarakatan terikat pada
hubungan-hubungan yang tetap. Hanya saja perlu dicatat, bahwa sebagai akibat dan
keterangan-keterangan yang diperoleh dan para pengembara dan misionaris, mulai
tumbuh anggapan-anggapan tentang adanya relativitas atas dasar lokalitas dan waktu.
Walaupun ajaran-ajaran pada abad kedelapan belas masih bersifat rasionalistis, tetapi
sifatnya yang dogmatis sudah agak berkurang.
6. John Locke (1632-1704)
Menurut Locke, manusia pada dasarnya mempunyai hak-hak asasi yang
berupa hak untuk hidup, kebebasan, dan hak atas harta benda. Kontrak antara warga
masyarakat dengan pihak yang mempunyai wewenang sifatnya atas dasar faktor
pamrih. Bila pihak yang mempunyai wewenang tadi gagal untuk memenuhi syarat-
syarat kontrak, maka warga-warga masyarakat berhak untuk memilih pihak lain.
7. J.J. Rousseau (1712-1778)
Rousseau antara lain berpendapat, bahwa kontrak antara pemerintah dengan
yang diperintah menyebabkan tumbuhnya suatu kolektivitas yang mempunyai
keinginan-keinginan sendiri, yaitu keinginan umum. Keinginan umum tadi adalah
berbeda dengan keinginan masing-masing individu.
8. Saint-Simon (1760-1825)
Ajaran-ajaran dan Saint-Simon (1760-1825) yang terutama menyatakan,
bahwa manusia hendaknya dipelajari dalam kehidupan berkelompok. Di dalam
bukunya yang berjudul Memoirs Sur La Science de i’Home, dia menyatakan


Use: 0.338