• PENELUSURAN KASUS-KASUS KEGAWATDARURATAN OBSTETRI YANG ...


  •   
  • FileName: 56.pdf [preview-online]
    • Abstract: tanda-tanda bahaya pada kehamilan dan pengetahuan mengenai kehamilan akan meminimalkan kegawatdaruratan. obstetri, namun banyak kepercayaan tradisional dan praktek penundaan pengambilan keputusan untuk mencari. perawatan pada ... 50.000.000 wanita setiap tahunnya mengalami masalah kesehatan ...

Download the ebook

MAKARA, KESEHATAN, VOL. 7, NO. 2, DESEMBER 2003
PENELUSURAN KASUS-KASUS KEGAWATDARURATAN OBSTETRI
YANG BERAKIBAT KEMATIAN MATERNAL
Studi kasus di RSUD Purworejo, Jawa Tengah
Hasnah1, Atik Triratnawati2
1Jurusan Keperawatan, Politeknik Kesehatan, Makassar, Indonesia
2Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 55281, Indonesia
E-mail: [email protected]
Abstrak
Perawatan selama persalinan dan kehamilan yang telah diperbaiki dapat mengurangi kematian maternal dan kematian
perinatal. Perbaikan aspek sosial, budaya, ekonomi, dan pendidikan, dapat membantu mengatasi 64 persen penyebab
kematian ibu. Perbaikan penanganan klinis, dapat mengatasi 36 persen kematian ibu. Kesadaran masyarakat akan
tanda-tanda bahaya pada kehamilan dan pengetahuan mengenai kehamilan akan meminimalkan kegawatdaruratan
obstetri, namun banyak kepercayaan tradisional dan praktek penundaan pengambilan keputusan untuk mencari
perawatan pada fasilitas kesehatan, masih dilakukan masyarakat. Tujuan studi ini yaitu menelusuri 4 kasus
kegawatdaruratan obstetri yang terjadi di masyarakat, serta bagaimana peran dan pengetahuan anggota keluarga terhadap
masalah ini. Penelitian kualitatif ini dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap suami dan anggota keluarga serta
melibatkan tujuh informan kunci. Keempat kehamilan diseleksi secara purposif. Kematian ibu terjadi karena faktor
medis dan non-medis. Faktor medis adalah kenyataan bahwa suami dan anggota senior keluarga tidak mengenal adanya
tanda bahaya selama kehamilan dan terjadinya keterlambatan menggunakan fasilitas medis. Fasilitas medis seperti
persediaan darah di rumah sakit yang minim, akan mempengaruhi proses selanjutnya pada kasus-kasus tersebut. Faktor
kepercayaan dan tradisi disamping keadaan sosio-ekonomi juga memberi sumbangan kepada terjadinya keadaan fatal
bagi ibu. Faktor medis dan non-medis mungkin juga mempengaruhi proses pengambilan keputusan pada kedaruratan
medis yang menyebabkan kematian pada keempat kasus ini.
Abstract
Tracing of Cases With Obstetric Emergency Causing Maternal Death In The General Government Hospital,
Central Java. Improving the way of caring during delivery and pregnancy can reduced maternal and perinatal mortality.
The improvement of caring on social, cultural, economic, and education aspects, can assist to overcome 64% of
maternal mortality. The change of clinical management can eliminate 36% of maternal mortality. The awareness of the
community about dangers during pregnancy and the knowledge on pregnancy minimize obstetric emergency, however
many traditional beliefs and the practice of postponement decisions in searching treatment by health providers are still
common in the community. The aims of the study were to trace four cases with obstetric emergency in the community
and to know the role and knowledge of family members on this problem. The study used the qualitative method with
indepth interviews with the husband or family member and seven key informants. The four cases were purposive
samples. The maternal death was caused by medical and non-medical factors. Husbands or family members, who did not
have any knowledge on signs of danger during pregnancy, were contributing to medical factors. The too late decision to
use health facilities was made by the husband or senior family members. Health facilities such as blood bank in the
hospital were minimal, which influenced the outcome of the cases. The existing of beliefs and tradition besides the
socio-economic status also may contribute to the maternal mortality. The medical and non-medical aspects may have an
impact on the decision-making process in managing obstetric emergency causing maternal mortality of the cases.
Keywords: decision, husband, family, emergency, obstetric
1. Pendahuluan
38
39
MAKARA, KESEHATAN, VOL. 7, NO. 2, DESEMBER 2003
Kematian maternal merupakan suatu fenomena puncak gunung es karena kasusnya cukup banyak namun yang nampak
di permukaan hanya sebagian kecil. Diperkirakan 50.000.000 wanita setiap tahunnya mengalami masalah kesehatan
berhubungan dengan kehamilan dan persalinan. Komplikasi yang ada kaitannya dengan kehamilan berjumlah sekitar 18
persen dari jumlah global penyakit yang diderita wanita pada usia reproduksi. Diperkirakan 40 persen wanita
hamil akan mengalami komplikasi sepanjang kehamilannya. Disamping itu 15 persen wanita hamil akan mengalami
komplikasi yang bisa mengancam jiwanya dan memerlukan perawatan obstetri darurat, dan perawatan tersebut
biasanya masih belum tersedia1.
World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa ada 500.000 kematian ibu melahirkan di seluruh dunia setiap
tahunnya, 99 persen diantaranya terjadi di negara berkembang2. Dari angka tersebut diperkirakan bahwa hampir satu
orang ibu setiap menit meninggal akibat kehamilan dan persalinan. Angka kematian maternal di negara berkembang
diperkirakan mencapai 100 sampai 1000 lebih per 100.000 kelahiran hidup, sedang di negara maju berkisar antara
tujuh sampai 15 per 100.000 kelahiran hidup. Ini berarti bahwa di negara berkembang risiko kematian maternal satu
diantara 29 persalinan sedangkan di negara maju satu diantara 29.000 persalinan.
Salah satu ukuran yang dipakai untuk menilai baik buruknya keadaan pelayanan kesehatan dalam suatu negara atau
daerah adalah angka kematian maternal (maternal mortality). Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT)3 di Indonesia
menjumpai kematian ibu 450 per 100.000 kelahiran hidup. Pada tahun 1992 Angka Kematian Ibu (AKI) sekitar 421 per
100.000 kelahiran hidup. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Departemen Kesehatan (SDKI Depkes)4
menetapkan AKI di Indonesia secara nasional sebesar 390 per 100.000 kelahiran hidup dan merupakan angka tertinggi
dibanding dengan negara-negara ASEAN lainnya. Sumber data yang lain pada tahun 1994 dari hasil penelitian di rumah
sakit umum di Indonesia terdapat angka kematian ibu sebesar 550 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini mengalami
penurunan sebesar 373 per 100.000 kelahiran hidup5. Angka ini tiga sampai enam kali lebih besar dari negara di
wilayah ASEAN dan lebih besar 50 kali dibanding dengan negara maju.
Komplikasi kehamilan dan persalinan yang terjadi di berbagai negara berkembang menjadi penyebab utama kematian
wanita pada usia reproduksi. Ini berarti Lebih dari satu wanita meninggal setiap menit dari penyebab komplikasi, atau
ini berarti 585.000 wanita meninggal setiap tahun. Kurang dari satu persen kematian ini terjadi di negara maju, ini
memperlihatkan bahwa wanita dapat menghindari kematian tersebut jika sumber daya dan jasa tersedia. Bertambahnya
jumlah tenaga kesehatan yang melayani wanita hamil dan melahirkan ternyata belum menurunkan angka kematian ibu
secara bermakna. Kenyataan ini menunjukkan bahwa penyelesaian masalah secara medis teknis bukan merupakan
jaminan penyelesaian masalah tingginya mortalitas ibu. Ada faktor lain yang akan menyumbang keberhasilan intervensi
medis yaitu dengan ditopang oleh cepatnya pengambilan keputusan ibu atau keluarga untuk mencari pertolongan.
Tindakan ini sangat banyak dipengaruhi oleh sikap waspada ibu dan keadaan sosial ekonomi keluarga. Ibu yang telah
diberi informasi bahwa kehamilan mungkin berisiko tinggi biasanya lebih waspada bila menghadapi permasalahan
selama kehamilan. Sejauh ini informasi yang diberikan terbatas pada ibu dan bersifat umum sehingga kurang terkait
dengan anggota keluarga lain. Pada keadaan kritis atau bahaya bukan hanya ibu yang berperan memutuskan untuk
mencari pertolongan tetapi seluruh keluarga1.
Perawatan selama persalinan dan kehamilan yang telah diperbaiki dapat mengurangi kematian maternal 50 sampai 80
persen serta kematian perinatal 30 sampai 40 persen. Perbaikan aspek sosial, budaya, ekonomi, dan pendidikan, dapat
membantu mengatasi 64 persen penyebab kematian ibu. Perbaikan penanganan klinis, bisa mengatasi 36 persen
kematian ibu1. Sementara itu lebih dari 70 persen kasus kematian maternal akibat komplikasi kehamilan dan persalinan,
para suami yang mengambil keputusan yang utama di dalam mencari perawatan untuk istrinya6.
Kesadaran masyarakat akan tanda-tanda bahaya pada kehamilan merupakan upaya meminimalkan kegawat daruratan
obstetri, namun banyak kepercayaan tradisional dan penundaan pengambilan keputusan untuk mencari perawatan pada
fasilitas kesehatan yang masih dijalankan di masyarakat. Ketiadaan dana dan keterlambatan transportasi yang cepat
untuk mencapai fasilitas kesehatan menjadi penyebab faktor kematian. Keterlambatan kegawatdaruratan obstetri lebih
lanjut juga dapat disebabkan oleh tidak tersediannya kapasitas untuk melakukan perawatan obstetri di kalangan petugas
medis. Kepercayaan tradisional yang dianut masyarakat tertentu akan mempengaruhi pengambilan keputusan oleh suami
sebagai kepala keluarga atau orang yang memegang peranan penting di dalam keluarga. Akibatnya jika terjadi kasus
kegawatdaruratan pada ibu hamil, melahirkan atau setelah melahirkan harus melibatkan beberapa pihak untuk berembuk.
Hal ini akan mengakibatkan terjadinya keterlambatan di dalam pengambilan keputusan yang mengakibatkan kematian
pada ibu7.
40
MAKARA, KESEHATAN, VOL. 7, NO. 2, DESEMBER 2003
Di Indonesia angka kematian ibu bervariasi menurut jenis penelitian, peneliti, tahun penelitian maupun angka
denumerator yang dipakai. Suyanto dan Hakimi8, melaporkan kematian maternal di Rumah Sakit Umum Daerah
(RSUD) Purworejo tahun 1990-1995, sebanyak 85 kasus diantara 4.682 persalinan hidup. Angka kematian maternal di
RSUD Purworejo rata-rata sebanyak 1.855 per 100.000 kelahiran hidup. Kematian maternal berturut-turut disebabkan
perdarahan 77,2 persen, pre eklamsi atau eklamsi 22 persen, infeksi 19,1 persen dan lain-lain 4,4 persen.
Data kematian maternal Kabupaten Purworejo menurut Profil Kesehatan Purworejo dari data pencapaian kegiatan
kesehatan keluarga tahun 1998 sampai dengan 2002. Diperoleh AKI tahun 1998 sebesar 251/100.000 kelahiran hidup,
tahun 1999 sebesar 229/100.000 kelahiran hidup, tahun 2000 sebesar 280/100.000 kelahiran hidup, dan tahun 2001
sebesar 205/100.000 kelahiran hidup serta dan tahun 2002 sebanyak 159/100.000 kelahiran hidup9.
Berdasarkan data-data di atas maka permasalahan penelitian ini adalah bagaimana riwayat terjadinya kasus
kegawatdaruratan obstetri yang berakibat kematian maternal terjadi di masyarakat. Dengan demikian tujuan penulisan
ini adalah: menelusuri kasus-kasus kematian maternal yang menonjol di masyarakat berdasar studi kasus serta
bagaimana pengetahuan dan peran anggota keluarga dalam melakukan perawatan pada kasus kegawatdarutan obsteri
tersebut.
2. Metode Penelitian
Penelitian kualitatif ini bukan untuk menggeneralisasi masalah melainkan untuk mendapatkan gambaran latar belakang
aspek sosial budaya yang mempengaruhi kematian maternal dan perawatan kasus kegawatdaruratan obstetri. Melalui
studi kasus ini maka akan diperoleh gambaran nyata mengenai kejadian yang dialami informan 10. Penelusuran kasus
dilakukan berdasar empat kasus kematian maternal yang terjadi di RSUD Purworejo antara tahun 1999 sampai Juli
2003. Subjek penelitian diperoleh secara purposive sehingga diperoleh empat kasus yang didasarkan pada variasi
paritas, umur ibu, tahun kematian, jenis pekerjaan. Data diperoleh dari hasil rekam medis saat pasien keluar dari
RSUD Purworejo. Cara pengumpulan data yaitu melalui wawancara mendalam dengan menggunakan pedoman
wawancara dilakukan terhadap suami atau anggota keluarga lain yang mengetahui kejadian kematian maternal.
Observasi juga dilakukan terhadap ibu hamil diwilayah tersebut. Observasi dilakukan untuk mengetahui cara melakukan
perawatan selama kehamilan dan persalinan. Pengumpulan data di lapangan melalui proses perekaman dengan alat bantu
tape recorder yang dilaksanakan pada tahun 2003. Selain itu keterangan tambahan diperoleh pula dari informan kunci
yang teridiri dari bidan yang merawat kasus, tetangga, ketua PKK, serta tokoh masyarakat setempat. Keterangan ini
dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran mengenai adat kebiasaan dan perilaku masyarakat dalam melakukan
perawatan selama masa kehamilan dan persalinan.
3. Hasil dan Pembahasan
Dari empat kasus kematian istri akibat kehamilan dan persalinan terdiri dari dua orang desa dan dua kasus adalah orang
kota. Secara umum masalah transportasi menuju ke rumah sakit tidak menjadi kendala karena jalan yang ada semuanya
datar serta kendaraan untuk mengangkut pasien cukup tersedia. Jenis kasus penyebab kematian berdasar hasil rekam
medis adalah dua kasus perdarahan, satu kasus eklampsia dan satu kasus pasca operasi. Di bawah ini akan dibahas
mengenai masing-masing kasus berserta faktor medis dan non-medis yang berperan terhadap kematian maternal. Selain
itu pengelompokan kasus didasarkan pada faktor yang paling menonjol sebagai faktor penyebab, walaupun faktor
tersebut bisa bersifat ganda.
Berikut ini akan disajikan hasil penelitian dan pembahasan penyebab kematian maternal karena faktor tersebut, yang
terdiri dari:
1. Faktor Medis
1 Keterlambatan mengenal tanda bahaya di rumah
Pada umumnya suami tidak mengetahui adanya tanda bahaya di rumah, walaupun suami atau anggota keluarga
mengetahui adanya keluhan yang dirasakan oleh ibu hamil. Hal ini terjadi karena suami jarang menemani istrinya
periksa pada saat ANC karena kesibukan suami sebagai kepala rumah tangga dalam mencari nafkah bagi keluarganya.
Selama ANC suaminya tidak mengetahui jadwal ANC, sehingga suami terkadang mengantar istrinya periksa hamil jika
kebetulan ia berada di rumah. Namun suaminya tidak pernah menemani periksa di dalam ruang periksa ibu bidan,
suminya hanya menunggu di ruang tamu. Hal tersebut menyebabkan suami tidak ikut melakukan perawatan terhadap
kehamilan istrinya. Disamping itu suaminya tidak pernah bertanya atau mencari informasi kepada bidan, teman atau
orang tua perihal kehamilan istrinya. Suami juga tidak mengetahui tanda bahaya yang terjadi di rumah dan kondisi ibu
41
MAKARA, KESEHATAN, VOL. 7, NO. 2, DESEMBER 2003
hamil serta risiko yang dapat muncul secara tiba-tiba, sebagai akibat dari faktor usia, jarak kehamilan, jumlah anak dan
beban kerja.
Suami umumnya tidak mengenal tanda bahaya bagi kehamilan istri, apalagi kehamilan yang kesekian kalinya. Hal itu
diungkapkan oleh suami dengan istri kasus perdarahan, yaitu kasus pertama bernama Ibu A, usia ibu 40 tahun, risiko
jarak pada kehamilan yaitu jarak anak ke empat dan kehamilan terakhir pada saat itu antara lima sampai enam tahun dan
paritas anak kelima. Ia meninggal tanggal 8 April 2001. Sejak masa kehamilan sampai meninggal ia didampingi oleh
suaminya. Ibu A bekerja di pabrik yang menghasilkan tekstil. Pendidikan suami SMP, berusia 49 tahun dan pekerjaan
sopir. Selama hamil ia tidak pernah mengambil cuti sampai masa melahirkan sudah dekat. Bahkan ibu A ini tetap
bekerja dengan dikenakan tiga shift yaitu pagi, siang dan malam. Kondisi tersebut menyebabkan ibu itu berpotensi
mengalami risiko tinggi selama kehamilan dan persalinan. Keterangan suami sebagai berikut:
“Istri saya dikenakan shift malam juga,
karena sebelum hamil dia sudah terbiasa
jaga malam, sehingga jaga malam hal yang
biasa. Apalagi istri saya mengandung anak
kelima, saya pikir hal itu biasa, dia sudah
pengalaman hamil”.
Kuotasi tersebut di atas memberikan gambaran ketidaktahuan suami mengenal tanda bahaya di rumah, menyebabkan
suami tidak ikut melakukan perawatan kehamilan. Perawatan selama kehamilan itu hanya biasanya dilakukan oleh istri
itu sendiri atau mertua. Jika mertua ikut serta melakukan perawatan kehamilan biasanya dikaitkan dengan tradisi
setempat.
Kasus kedua juga terjadi perdarahan karena atunia uteri. Identitas Ibu B, berumur 32 tahun, pendidikan lulus SMP,
paritas ke dua, pekerjaan ibu rumah tangga. Ia meninggal tanggal 20 Agustus 1999. Namun selama masa kehamilan,
melahirkan sampai meninggal, suami tidak menemani karena dia bekerja di provinsi lain. Oleh karena itu selama proses
kehamilan dan melahirkan yang lebih mengetahui adalah adik dan orang tuanya. Mereka sekeluarga tinggal dalam satu
lokasi berupa tanah keluarga. ANC kepada bidan pada umumnya dilakukan sendiri atau terkadang ditemani adiknya.
Namun adiknya tidak mengetahui secara pasti bagaimana keadaan kehamilan kakaknya karena kakak tidak pernah
mengeluh atau merasa sakit selama hamil.
Sewaktu menjelang persalinan tidak terjadi gangguan kesehatan yang berarti pada diri Ibu C. Akan tetapi ia tiba-tiba
mengalami perdarahan hebat setelah melahirkan. Padahal ia melakukan ANC dengan teratur, serta tidak pernah
mengeluh selama hamil. Posisi janin dan kondisi fisik baik, bahkan sebelum melahirkan kondisinya masih stabil, tetapi
setelah melahirkan tiba-tiba terjadi perdarahan hebat yang tidak dapat dibendung. Perdarahan tersebut menyebabkan dia
shock dan akhirnya meninggal.
Usia ibu yang relatif tua, jarak kehamilan yang jauh, dan paritas anak ketiga merupakan faktor yang dapat
membahayakan keselamatannya. Faktor tersebut menyebabkan daya tahan tubuh ibu hamil mulai menurun sehingga
pada saat partus tidak kuat lagi mengejan. Selain itu fungsi alat reproduksi mulai menurun sehingga tidak mampu lagi
menampung kehamilan yang terjadi, bahkan dapat menyebabkan kontraksi uterus tidak kuat lagi atau lembek yang
berakibat terjadinya perdarahan setelah melahirkan. Sejalan dengan itu WHO menyebutkan bahwa dalam kurun
reproduksi sehat atau dikenal dengan usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah umur 20 sampai 30 tahun.
Kematian maternal pada wanita hamil dan melahirkan pada usia di bawah 20 tahun ternyata dua sampai lima kali lebih
tinggi dari pada kematian maternal yang terjadi pada usia 20 sampai 29 tahun. Kematian maternal meningkat kembali
sesudah usia 30 sampai 35 tahun16.
Jenis pekerjaan yang dilakukan ibu hamil akan berpengaruh terhadap kehamilan dan persalinannya17. Kasus Ibu A, ia
bekerja di perusahaan yang menghasilkan tekstil. Ia bekerja secara berlebihan dimana pekerjaannya dibagi tiga shift
yaitu pagi, siang dan malam. Beban kerja yang berlebihan menyebabkan ibu hamil kurang beristirahat, yang berakibat
produksi sel darah merah tidak terbentuk secara maksimal dan dapat mengakibatkan ibu kurang darah atau disebut
sebagai anemia. Hal serupa dikuatkan oleh Koblinsky, et al., bahwa anemia yang diderita ibu hamil menyebabkan
kelemahan, kelelahan dan menyebabkan produktivitas kerja yang rendah18.
42
MAKARA, KESEHATAN, VOL. 7, NO. 2, DESEMBER 2003
Hal serupa diungkapkan oleh ketua program PKK setempat, bahwa suami-suami biasanya tidak memperhatikan ibu saat
kehamilan anak yang kedua dan seterusnya, sementara istri sendiri biasanya tidak mau berterus terang kepada suami. Ia
mengatakan bahwa:
“Apalagi bagi mereka yang sudah sering
melahirkan, kehamilan sepertinya itu
dianggap urusan istri. Suami biasanya tidak
memberikan perhatian apakah istrinya hamil
tua, sudah kehamilan yang kesekian kali,
dimana tentu kondisinya berbeda dari
kehamilan yang pertama atau kedua. Istri
sendiri sepertinya tidak mau terbuka sama
suami. Kehamilan itu sudah biasa, sudah biasa
mereka jalani, memang sudah begini gitu, jadi
tidak mempersalahkan kehamilannya itu.
Padahal kan penting, dimana kondisi
kehamilan anak pertama, kedua, dan
selanjutnya, akan berbeda-beda, kita makin
umur dan sebagainya tapi sepertinya ibu hamil
itu, tidak ada yang pernah ceritera yang
seperti itu”.
Kasus ketiga yaitu Ibu C yang meninggal satu hari setelah dilakukan operasi laparotomi. Operasi dilakukan karena ibu
tersebut mengalami kehamilan di luar kandungan. Ibu C berpendidikan SD, pekerjaan seorang ibu rumah tangga, paritas
ketiga, dan berusia 38 tahun. Ia meninggal tanggal 1 September 2001. Pendidikan suami SD, berusia 42 tahun dan
pekerjaan petani. Suami tidak mengetahui jadwal ANC isterinya sehingga tidak mengantar atau menemani pada saat
memeriksakan kehamilannya. Ibu C merasa bahwa ia bisa pergi sendiri ke tempat ANC karena jarak sangat dekat yaitu
hanya antara 40 sampai 50 meter dari rumahnya yang dapat ditempuh oleh ibu hamil dengan jalan kaki. Selain itu
pekerjaan suami sebagai petani menyebabkan dia sibuk di sawah sepanjang hari. Sehingga ia tidak mempunyai waktu
untuk mencari informasi tentang kehamilan dan persalinan, walaupun dia mengetahui istrinya merasakan sakit jika bayi
dalam perut bergerak.
Berbeda dengan kasus di atas, pada kasus ke empat Ibu D yang meninggal pada usia muda yaitu 21 tahun. Ia hanyalah
seorang ibu rumah tangga dengan kehamilan anak pertama. Ia meninggal 7 Juli 2003 dan pendidikan SMA. Sementara
pendidikan suami juga tamat SMA, berusia 29 tahun dan pekerjaan pegawai pemerintahan. Suami Ibu D sangat
memperdulikan kehamilan dan mengetahui jadwal ANC istrinya. Suami Ibu D selalu mengantar istri memeriksakan
kehamilannya. Ia juga mengadakan konsultasi kepada bidan, tetangga, dan orang tua serta berusaha mencari informasi
sendiri tentang kehamilan dan persalinan. Dia mengetahui pada saat istrinya terjadi peningkatan tekanan darah, namun
dia tidak mengetahui bahaya yang terjadi di rumah seperti peningkatan tekanan darah dapat menyebabkan terjadinya pre
eklampsia dan eklampsia.
Bidan telah memotivasi istri untuk konsultasi ke dokter, mengurangi makan garam dan asin-asinan. Dia juga mengetahui
jika Ibu D merasakan sedikit pusing, serta sedikit odema. Namun ia tidak mengetahui risiko yang akan muncul sebagai
akibat tanda tersebut. Sehingga ia mengabaikan nasihat bidan untuk konsultasi disebabkan kesibukan suami, dimana
adik suami baru selesai hajatan (menikah). Kasus eklampsia pada Ibu D meninggal akibat suami tidak memperhatikan
nasihat bidan. Bidan telah menasihati agar konsultasi ke dokter. Suami sebagai anak lelaki satu-satunya dituntut untuk
memperhatikan dan masih mempunyai beban tanggung jawab terhadap keluarga. Padahal kasus tersebut seharusnya
dapat dicegah karena tanda-tanda pre eklampsia dan eklampsia telah diketahui. Penyebab lain dia masih tinggal serumah
dengan orang tuanya yang masih memegang tradisi, sehingga semua urusan kehamilan orang tualah yang merawat,
menganjurkan atau melarang istrinya.
Saat ini dikembangkan rencana aksi dimana bapak yang sebelumnya terlupakan, kini dilibatkan pada seluruh siklus
materniti. Suami diberikan dorongan untuk ikut serta dalam kelas-kelas persiapan kelahiran bayi. Suami belajar untuk
bekerja dengan istri selama persalinan dan pergi bersama ke ruang persalinan. Bapak belajar bagaimana memberikan
makanan, popok dan memandikan bayi yang baru lahir. Keikut sertaan seperti ini berperan sebagai orangtua
memperkuat hubungan bapak-anak dan suami-istri19.
43
MAKARA, KESEHATAN, VOL. 7, NO. 2, DESEMBER 2003
1.2. Keterlambatan di fasilitas pelayanan kesehatan
Rumah sakit merupakan pusat fasilitas pelayanan kesehatan terakhir yang diterima oleh penerima pelayanan kesehatan
tanpa kecuali ibu yang sedang hamil dan akan melahirkan atau setelah melahirkan. Pada kasus kematian ibu ini,
beberapa informan menginginkan agar istrinya melahirkan di rumah sakit, tetapi karena permintaan istri yang ingin
melahirkan di pondok bersalin saja, dengan alasan pertimbangan biaya, sehingga para suami mengikuti kemauan istri.
Alasan utama yang dikemukakan suami agar istri melahirkan di rumah sakit adalah agar ia segera ditangani jika terjadi
sesuatu. Pada kasus di atas suami merasa cemas dengan kelahiran anak pertama. Ini berarti, para suami telah menyadari
pentingnya perawatan yang baik bagi istrinya. Juga karena para lelaki biasanya lebih banyak mengakses penggunaan
pelayanan kesehatan dibandingkan wanita. Suami ibu tersebut tampak pasrah menerima semua kejadian tersebut.
Namun menurut bidan yang merujuk kasus ibu dengan perdarahan ini, dimana perdarahan terjadi setelah bidan
menolong persalinannya, mengatakan:
“Saya mengikuti sampai ke UGD, tapi
bagaimana lagi proses periksanya saja satu
jam, bagaimana akan mencari darah,
sedangkan kita masuk UGD sudah masuk
infus dari 2 jalur, kita perbaikan Keadaan
Umum (KU), periksa ulang Haemoglobin
(HB), golongan darah, 1 jam dan mencari
darah kan nggak nyandak (sampai).
Kadang-kadang kalau di rumah sakit pun
sendiri 1 jam cari darah itu belum tentu
tersedia berhubung darah belum tentu ada, kita
di sana di rumah sakit, kita mengadakan
perbaikan KU untuk usaha darah di PMI itu
nggak mungkin dalam waktu 1 jam, bisa
lebih dari satu jam kalau itu dalam keadaan
darurat”.
Proses persalinan berlangsung cepat dan bagus. Namun perdarahan terjadi satu jam setelah dia melahirkan, perdarahan
tidak dapat dibendung. Bidan segera memasang infus, dan melakukan kompresi manual. Sebelum merujuk ke rumah
sakit bidan menelepon ambulance, ambulance tiba di pondok bersalin dalam waktu lima menit. Ibu ini segera dikirim ke
RSUD Pemerintah untuk mendapatkan tindakan selanjutnya. Namun hanya dalam waktu satu jam di rumah sakit ibu
tersebut meninggal, sebelum dilakukan transfusi darah.
Demikian pula pada kasus Ibu B, setelah tiba di rumah sakit satu jam kemudian ia melahirkan, namun setelah
melahirkan terjadi perdarahan hebat yang membutuhkan transfusi darah. Peristiwa itu terjadi di malam hari sehingga
darah yang dibutuhkan terlambat tersedia, dimana darah harus diambil pada Palang Merah Indonesia (PMI). Waktu
yang dibutuhkan untuk itu selama 30 menit tetapi darah yang tersedia tidak dapat dipergunakan lagi. Pada saat ibu ini
meninggal, ibunya yang selama ini menemani kembali ke rumah karena melihat kondisi anaknya yang kritis. Ibunya
pulang ke rumah untuk mencari tambahan dana yang sewaktu-waktu diperlukan.
Kasus-kasus tersebut memberikan gambaran bahwa kematian maternal pada fasilitas pelayanan kesehatan masih banyak
terjadi disebabkan kurang tersediannya sarana kegawatdaruratan yang dibutuhkan. Salah satu ukurannya adalah tidak
tersedianya darah di fasilitas kesehatan pusat, sehingga kasus perdarahan yang membutuhkan transfusi darah tidak
segera dilakukan karena keluarga harus menghubungi Palang Merah Indonesia (PMI) terlebih dahulu.
Selain kasus diatas, kasus Ibu D dengan eklampsia yang dirujuk ke rumah sakit dengan usia kehamilan ibu 28 sampai 32
minggu. Ibu D tidak segera dilakukan tindakan secsio secaria dengan alasan mempertahankan kehamilan sampai
sembilan bulan. Suami mengatakan:
“Kemarin kalau sudah dioperasi kan… ya
sudah tapi menurut dokter sini belum
waktunya itu… apa lah kandungan belum
waktunya, belum bisa hidup di luar
kandungan makanya untuk itu bisa bertahan
dulu”.
44
MAKARA, KESEHATAN, VOL. 7, NO. 2, DESEMBER 2003
Tindakan tersebut tidak sesuai dengan pendapat Sudhaberata 11 yang mengungkapkan bahwa untuk kehamilan kurang
dari 37 minggu, bila memungkinkan terminasi ditunda dua kali 24 jam untuk maturasi paru janin dan sikap dasar adalah
semua kehamilan dengan eklampsia harus diakhiri tanpa memandang umur kehamilan dan keadaan janin. Saat terminasi
setelah terjadi stabilisasi hemodinamik dan metabolisme ibu yaitu empat sampai delapan jam.
2. Faktor Non-Medis
2.1. Proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh suami atau anggota keluarga.
Berdasarkan hasil wawancara, ditemukan bahwa pola proses pengambilan keputusan umumnya dilakukan oleh suami
atau anggota keluarga yang dituakan. Apabila terjadi kasus kegawatdaruratan, dalam masa Antenatal Care (ANC)
mereka memegang peranan yang sangat berarti bagi keselamatan ibu. Merekalah yang akan menentukan tindakan
terbaik yang dapat diberikan atau menentukan cepat lambatnya suatu proses pertolongan yang akan diterima penderita.
Pada kasus Ibu C dengan eklampsia, ketika Ibu C mengalami kejang di rumah kemudian suaminya memanggil bidan,
tapi dia tidak mengetahui jika Ibu C mengalami kejang. Bidan menyarankan agar Ibu C segera dibawa ke rumah sakit.
Oleh keluarga terutama mertua keberatan jika Ibu C dibawa ke rumah sakit. Menurut mertua sebelum Ibu C dibawa ke
rumah sakit harus dimusyawarakan dahulu dengan pihak besan yang tinggal di desa lain berjarak 10 km. Sementara
tekanan darah pada saat itu telah mencapai 170/100 mmHg. Ibu B mengalami kejang-kejang berulang, muntah-muntah
dan pusing.
Melihat hal tersebut suaminya bingung dan menyerahkan semua keputusan kepada bidan. Bidan bertugas menemani Ibu
B sampai di rumah sakit hingga tindakan dilakukan. Di rumah sakit segera ditangani oleh dokter E karena bidan telah
memberitahu sebelumnya lewat telepon sebelum merujuk kasus ibu B. Saat bidan menginginkan tindakan yang cepat,
tetapi karena dia tinggal serumah dengan mertuanya, maka mertuanyalah yang memegang peranan penting. Merekalah
yang mengambil keputusan apakah harus segera dibawa ke rumah sakit atau menunggu orang tuanya. Bidan yang
merujuk memberi penjelasan terhadap mertuanya mengenai akibat yang akan terjadi jika menunda waktu untuk dirujuk.
Suami tidak dapat berbuat banyak. Hal ini disebabkan dia adalah satu-satunya anak laki-laki di keluarganya sehingga
dia akan menurut apa yang dikatakan oleh orang tuanya. Setelah kejang berulang-ulang bidan menasihati mertuanya
untuk bertindak cepat dengan cara dibawa ke rumah sakit.
Bidan sebagai orang yang lebih mengetahui bahaya tersebut dia mengatakan secara tegas, tetapi tidak menjelaskan
kepada keluarga risiko dari penyakit eklampsia. Suami yang biasa mencari informasi tentang kehamilan dan persalinan
melihat peristiwa tersebut, akhirnya menjadi takut dan tidak dapat berbuat banyak, sehingga suaminya menyerahkan
semua keputusan dan tindakan terbaik kepada bidan.
Bentuk keluarga pada kasus penelitian di Kabupaten Purworejo adalah keluarga besar, yang biasanya terdiri dari suami,
istri, anak dan orang tua serta mertua. Proses pengambilan keputusan akan melibatkan mereka, bahkan melibatkan
tetangga dan masyarakat setempat. Akan tetapi pola pengambilan keputusan pada keluarga dengan kasus
kegawatdaruratan obstetri yang berakibat kematian maternal masih didominasi oleh keluarga, terutama suami sebagai
kepala keluarga. Istri sebagai anggota keluarga tidak mendapat peran sebagai decision maker 15.
Pengambilan keputusan dalam kasus kegawatdaruratan sebaiknya melibatkan isteri itu sendiri dan jika tidak terjadi
kemufakatan maka tenaga kesehatan sebagai orang yang lebih mengetahui proses suatu penyakit17. Keterlibatan
tetangga atau anggota masyarakat yang dituakan. Tetangga dan masyarakat turut terlibat karena adanya sifat
kegotongroyongan dalam masyarakat dimana rasa kekeluargaan masih erat. Sifat kegotong-royongan tetangga biasanya
dengan menyiapkan sarana transportasi yang akan digunakan.
2.2. Konsep dan tradisi yang diyakini masyarakat
Tingginya nilai seorang anak tercermin dalam perilaku suami direfleksikan dengan menyelamatkan dan memperhatikan
istri yang sedang hamil. Perhatian tersebut akan berbeda antara kehamilan dan kelahiran anak pertama, kedua, ketiga
dan seterusnya. Pada umumnya keluarga bahkan masyarakat sangat memperhatikan kelahiran anak pertama, hal tersebut
dapat dilihat dengan adanya tradisi masyarakat yang dilakukan pada kehamilan anak pertama dan anak ganjil yang
disebut sebagai mitoni dan mapati seperti yang diungkapkan oleh ketua program PKK Kelurahan Purworejo:
“Perkawinan pertama dengan anak kehamilan
pertama, di wilayah ini biasanya ditandai
dengan upacara selamatan empat dan tujuh
bulan kehamilan istri”.
45
MAKARA, KESEHATAN, VOL. 7, NO. 2, DESEMBER 2003
Tujuan dari upacara di atas adalah agar ibu hamil mampu melewati masa krisis dalam hidup yaitu persalinan12. Tujuan
itu juga diungkapan oleh Fardiana bahwa perempuan yang hamil perlu diadakan selamatan dengan maksud agar bayi
yang dilahirkan dalam keadaan selamat dan si anak bahagia di kemudian hari, biasanya untuk kehamilan pertama kali
saat kehamilan berusia tujuh bulan (mitoni/tingkeban)20. Selain itu masyarakat Jawa khususnya di pedesaan memiliki
kebiasaan bahwa hidup maupun mati sebaiknya tetap berada di rumah. Hal ini menyebabkan mereka lebih menyukai
persalinan yang berlangsung di rumah mereka. Dengan melakukan persalinan di rumah maka anggota keluarga tidak
perlu menunggui di rumah sakit misalnya sehingga aktivitas keseharian mereka tidak terganggu. Selain itu melahirkan di
rumah dianggap lebih murah serta tidak membuat repot banyak pihak. Semua kebutuhan persalinan bisa tetap disediakan
oleh anggota keluarga dan bantuan tetangga terdekat. Rasa aman yang tinggi bila melahirkan di rumah terkait dengan
kebiasaan setempat bahwa persalinan itu biasanya ditunggui oleh seluruh kerabat sehingga semuanya berkumpul
pantangan 13.
Ibu hamil yang telah mempunyai rumah sendiri umumnya mereka juga mandiri secara ekonomi maupun sosial. Mereka
yang hidup terpisah dengan orang tua maupun mertua tidak mengetahui pantangan selama hamil kecuali anjuran minum
minyak goreng sebelum melahirkan untuk mempercepat kelahiran anak. Penyebabnya karena kepercayaan biasanya
diperoleh secara turun temurun, di samping itu ibu hamillah yang menentukan perawatannya sendiri tanpa dipengaruhi
oleh mertua atau anggota keluarga lainnya. Sebaliknya kasus yang tinggal dengan mertua atau orang tua mengakibatkan
mereka harus patuh khususnya terhadap beberapa pantangan selama kehamilan. Orang yang dituakan di rumah itu
biasanya akan turut mengambil andil dalam perawatan ibu hamil. Mereka melakukan perawatan kehamilan berdasar adat
kebiasaan serta kepercayaan yang mereka yakini selama ini. Mereka melaksanakan pantangan yang dikatakan oleh
orang tua dengan alasan agar kehamilan dan persalinannya selamat dari berbagai ancaman yang tidak dikehendaki.
Ibu B tinggal dengan mertuanya yang mempunyai kebiasaan terhadap beberapa pantangan selama kehamilan yaitu tidak
boleh makan nangka, durian, pete, telur, ikan laut dan belut tetapi ia tidak dapat menjelaskan mengapa hal tersebut
dilarang. Dia hanya mengatakan kalau makan ikan dan belut nanti rumah dan piringnya akan berbau amis. Sebagai
akibat tinggal serumah dengan mertua menurut tetangganya dia seperti tertekan tetapi dia mampu menutupi karena
orangnya humoris. Alasan jika makan duren maka anak yang akan dilahirkan menjadi gundul atau rambutnya tidak
tumbuh. Sedangkan makan nangka juga dilarang dengan alasan nangka mempunyai getah yang akan merekatkan bayi ke
perut ibunya, sehingga pada saat melahirkan bayinya akan sulit keluar. Untuk menghindari hal tersebut makan sayur
nangka diperbolehkan asalkan pada saat memasak di beri minyak kelapa sedikit, agar getahnya tidak melekatkan bayi
dengan ibunya. Ibu hamil juga dilarang makan daun so karena pada saat melahirkan perut akan terasa melilit-lilit.
Tradisi makanan pantangan selama hamil sangat merugikan ibu hamil. Terutama pantangan terhadap makanan yang
mengandung protein seperti telur. Padahal dalam tinjauan medis ibu hamil dianjurkan makan lebih banyak dari biasanya
terutama protein, karena dapat menjadi cadangan energi yang akan digunakan untuk mengejan (berkuat) saat
melahirkan. Makanan itu sekaligus juga akan dikonsumsi oleh janin sehingga bayinya tidak mengalami berat bayi lahir
rendah (BBLR). Disamping itu makanan juga dibutuhkan ibu hamil agar tidak terjadi kurang darah, mengeluh pusing
sehingga pada saat melahirkan tidak terjadi perdarahan.
Selain pantangan makan ada juga pantangan dalam berperilaku yang biasanya diberlakukan pada kedua belah pihak
yaitu suami dan istri. Antara lain jika istrinya hamil maka suami tidak boleh duduk di depan pintu dan tidak boleh
menambal lubang karena akan menyebabkan jalan lahir tersumbat sehingga pada saat melahirkan anak susah keluar. Ibu
hamil tidak boleh keluar rumah pada saat Magrib. Kedua pantangan sebelumnya tidak perlu diubah karena perilaku
tersebut tidak membahayakan ibu hamil, sehingga hanya bersifat netral.
Pantangan dalam berperilaku untuk suami dan isteri biasanya bersifat netral dan tidak membahayakan ibu hamil.
Adapun pantangan ibu hamil tidak boleh keluar rumah pada saat Magrib, ditolerir karena diduga bisa mengurangi
kematian maternal. Alasannya, karena ibu hamil perlu istirahat yang cukup, sehingga ibu hamil yang tidak keluar pada
malam hari dapat menggunakan waktu tersebut untuk beristirahat.
Selama hamil rambut ibu hamil harus terurai untuk menghindari persalinan yang macet dan adanya perasaan melilit-lilit
pada perut. Ibu hamil tidak boleh bermalas-malasan di atas tempat tidur dan saat bangun harus segera turun dari tempat
tidur. Selain pantangan makan dan berperilaku selama masa kehamilan terdapat konsep masyarakat tentang kematian ibu
hamil dan melahirkan. Mereka beranggapan bahwa ibu yang mati karena melahirkan akan menuju ke jalan yang lurus
46
MAKARA, KESEHATAN, VOL. 7, NO. 2, DESEMBER 2003
yaitu meninggal dalam perang sabil (mati syahid). Sedangkan jika meninggal dalam keadaan hamil masih membawa
kotoran. Hal itu diungkapkan oleh salah satu informan kunci, dia mengatakan:
“Ya, kalau meninggalnya itu habis babaran
(melahirkan) itu bersih, itu perang sabil akan
masuk sorga tapi kalau mati masih bawa
kandungan itu kotor, orangnya kok masih
bawa wetengan, bisa melahirkan dalam
kubur (lahir sak jroning kubur)”.
Sedangkan suami yang mengalami kematian maternal mengatakan bahwa kematian sudah merupakan takdir sehingga
manusia tidak mampu mencegahnya.
Penduduk Kabupaten Purworejo pada umumnya menganut agama Islam, namun pengaruh budaya Jawa juga cukup
menonjol, sehingga kematian maternal akibat kehamilan dan persalinan masih dikaitkan dengan kepercayaan atau mitos
seperti yang telah disebut di atas.
2.3. Keadaan sosial dan ekonomi
Hubungan antara faktor sosial ekonomi dengan masalah kematian maternal di masyarakat biasanya bukan sebagai
penyebab langsung. Kematian maternal biasanya berkaitan dengan kemampuan keluarga dalam menyediakan makanan
bergizi, tempat tinggal yang memenuhi persyaratan serta biaya untuk pemeliharaan kesehatan.
Keempat kasus kematian maternal jika ditinjau keadaan sosial dan ekonomi merupakan keluarga pra-sejahtera. Keadaan
rumah informan umumnya kecil, kotor dan kurang terurus. Pekerjaan pokok suami adalah petani atau buruh swasta
dengan penghasilan yang jauh dari cukup. Akibatnya masalah kesehatan masih jauh dari harapan. Mereka memang telah
mengenal ANC dengan bidan namun hal-hal yang menyangkut kesehatan secara keseluruhan mereka kurang paham.
Bahkan mengenal tanda kegawatdaruratan obstetri pun mereka tidak mampu. Hal ini didukung oleh latar belakang
pendidikan suami-istri yaitu lulus SD atau SMPdan SMA satu orang.
4. Kesimpulan
Dari paparan kasus di atas terlihat bahwa peran anggota keluarga baik suami maupun ibu mertua cukup kuat dalam
proses pengambilan keputusan di keluarga khususnya menyangkut masalah kegawatdaruratan obstetri. Hal tersebut
sejalan dengan Nadesul at al, bahwa mutu suatu keputusan ditentukan oleh siapa pengambil keputusannya, dimana
sesuatu yang diputuskan akan dilakukan setelah menilai suatu keadaan, kenyataan atau peristiwa yang sedang dihadapi.
Hal yang sama dikuatkan lagi oleh data ICDDR bahwa lebih dari 70 persen kasus kematian maternal akibat komplikasi
kehamilan dan persalinan, para suami yang mengambil keputusan yang utama di dalam mencari perawatan untuk istrinya
karena itu sebaiknya suami mengikutsertakan anggota keluarga lainnya sebelum mengambil keputusan. Keputusan d


Use: 0.3531