• PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM STUDI KOMPARASI ...


  •   
  • FileName: pkmp-dikti-2010-yuhuy.pdf [preview-online]
    • Abstract: Dalam Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan ... Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional. Pendidikan dalam Pasal 61 Ayat (1) ...

Download the ebook

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
JUDUL PROGRAM
STUDI KOMPARASI EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN FISIKA KELAS
BERTARAF INTERNASIONAL DAN KELAS REGULAR
DI SMA NEGERI 3 SURAKARTA
BIDANG KEGIATAN :
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA PENELITIAN (PKMP)
Diusulkan oleh :
1. Rahmat Afriyanto K2307045 / 2007
2. Ana Yuniasti R K2306013 / 2006
3. Tri Mulyani K2306011 / 2006
4. Heru Edi Kurniawan K2307009 / 2007
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2009
HALAMAN PENGESAHAN
USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
1. Judul Kegiatan : Studi Komparasi Efektivitas Pembelajaran Fisika
Kelas Bertaraf Internasional dan Kelas Regular
di Sma Negeri 3 Surakarta
2. Bidang Kegiatan : ( V ) PKMP ( ) PKMK
( ) PKMT ( ) PKMM
3. Bidang Ilmu : ( ) Kesehatan ( ) Pertanian
( ) MIPA ( ) Teknologi dan Rekayasa
( ) Sosial Ekonomi ( ) Humaniora
( V ) Pendidikan
4. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : RAHMAT AFRIYANTO
b. NIM : K2307045
c. Jurusan : P. MIPA
d. Universitas/Institut/Politeknik : Sebelas Maret Surakarta
e. Alamat Rumah dan No Tel./HP : Melikan, Setrorejo,Baturetno,
Wonogiri. Hp. 085293218441
f. Alamat email : [email protected]
5. Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis : 3 orang
6. Dosen Pendamping
a. Nama Lengkap dan Gelar : Dr.Sarwanto,S.Pd,M.Si
b. NIP : 19690901 199403 1002
c. Jurusan/Fakultas : P. MIPA / FKIP
d. Alamat Rumah dan No Tel./HP : Karangasem RT 01 RW 05
Surakarta 57145 telp 0271-733406
e. Alamat email :-
7. Biaya Kegiatan Total
a. DIKTI : Rp 10.000.000,00
b. Sumber lain (sebutkan . . . ) : Rp -
8. Jangka Waktu Pelaksanaan : 6 bulan.
Surakarta, 28 September 2009
Menyetujui,
Pembantu Dekan III FKIP UNS Ketua Pelaksana
Drs. Amir Fuady, M.Hum Rahmat Afriyanto
NIP. 195207291980101001 NIM. K2307045
Pembantu Rektor III UNS Dosen Pembimbing
Drs. Dwi Tiyanto, S.U. Dr.Sarwanto,S.Pd,M.Si
NIP. 195404141980031007 NIP. 19690901 199403 1002
A. JUDUL PROGRAM
STUDI KOMPARASI EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN FISIKA KELAS
BERTARAF INTERNASIONAL DAN KELAS REGULAR DI SMA N 3
SURAKARTA
B. LATAR BELAKANG MASALAH
Pendidikan pada dasarnya merupakan salah satu upaya untuk memberikan
pengetahuan, wawasan, ketrampilan, dan keahlian tertentu kepada individu–
individu guna menggali dan mengembangkan bakat serta kepribadian mereka.
Proses pembelajaran merupakan komponen pendidikan. Kegiatan
tersebut melibatkan peserta didik dan guru. Pada proses pembelajaran terdapat
interaksi antara guru dan siswa sebagai peserta didik.
Di era globalisasi ini pemerintah kita terdorong untuk memacu diri untuk
memiliki standart internasional. Dalam upaya peningkatan mutu, efisiensi,
relevansi, dan peningkatan daya saing secara nasional dan sekaligus internasional
pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, maka telah ditetapkan pentingnya
penyelenggaraan pendidikan bertaraf internasional, baik untuk sekolah negeri
maupun swasta.
Dengan berbekal keinginan kuat, maka Depdiknas segera mengeluarkan
program Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang proyek rintisannya saja telah
menyertakan SMP dan SMA misalnya di SMA N 3 Surakarta . Proses belajar
mengajar di sekolah ini menekankan pengembangan daya kreasi dan inovasi, dan
eksperimentasi untuk memacu ide-ide baru yang belum pernah ada selain itu
proses belajar mengajar disampaikan dalam dua bahasa yaitu bahasa inggris dan
bahasa Indonesia. Tetapi mungkin biayanya sedikit lebih mahal dari kelas reguler
atau kelas biasanya,tapi ini juga ada sisi positifnya yaitu murid-murid bisa lebih
berprestasi dari kelas reguler khusdusnya dalam bidang bahasa inggris.teman
belajar di dalam kelas juga lebih sedikit karena untuk membentuk suasana yang
kondusif saat belajar.di kelas SBI ini juga menyediakan porsi lebih bagi
peminatnya,kita bisa akses internet saat pelajaran untuk mencari informasi tentang
topik yang sedang kita pelajari jadi kita tidak perlu membawa buku yang banyak
dan berat seperti kelas selain SBI .
Seiring dengan semakin berkembangnya program Rintisan Sekolah
Bertaraf Internasional, maka semakin banyak sekolah yang menjadi rintisan SBI.
Sekarang ini, telah berkembang pada jenjang Sekolah Dasar, Sekolah Menengah
Pertama, Sekolah Menengah Atas bahkan Perguruan Tinggi.
Pelaksanaan program rintisan SBI tidak dapat dilaksanakan di semua
kelas pada setiap sekolah Rintisan SBI. Beberapa kelas masih menggunakan
program regular sebagaimana yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Begitu pula
sekolah-sekolah yang tidak termasuk dalam rintisan SBI. Sekolah-sekolah yang
tidak termasuk dalam rintisan SBI tetap menjalankan proses pembelajaran seperti
umumnya (Sistem Reguler). Kenyataan di lapangan tidak selalu memberikan hasil
sesuai harapan, sehingga pemerintah perlu melakukan pengawasan yanh intensif
pelaksanaan program RSBI ini. Progrm RSBI dan regular tidak selalu
memberikan hasil yang berbeda, bahkan program regular juga dapat bersaing
dalam hal prestasi. Pengadaan program RSBI ini mengundang pro dan kontra
dalam pandangan masyarakat.
Oleh karena itu, kami Tim PKMP FKIP UNS akan mengadakan penelitian
tentang efektifitas pembelajaran kelas Bertaraf Internasional dengan kelas regular
yang kami beri judul “Studi Komparasi Efektivitas Pembelajaran Fisika
Kelas Bertaraf Internasional Dan Kelas Regular Di SMA N 3 Surakarta”.
Kami menentukan SMA N 3 Surakarta sebagai sasaran kami, karena sekolah
tersebut sudah menerapkan program SBI dan dalam pelaksanaannya sudah
memenuhi persyaratan yang ditentukan pemerintah.
C. RUMUSAN MASALAH
Dari uraian latar belakang diatas, agar penelitian ini lebih efektif maka kami
menyusun perumusan masalah sebagai berikut :
1. Apakah ada perbedaan kemampuan awal siswa kelas bertaraf internasional
dan kelas regular di SMA N 3 Surakarta?
2. Apakah ada perbedaan Efektivitas pembelajaran Fisika kelas bertaraf
internasional dan kelas regular di SMA N 3 Surakarta?
3. Apakah faktor-faktor penunjang proses pembelajaran Fisika kelas bertaraf
internasional dan kelas regular di SMA N 3 Surakarta berpengaruh
terhadap efektifitas pembelajaran?
4. Apakah ada interaksi antara penggunaan model pembelajaran kelas
bertaraf internasional dan kelas regular di SMA N 3 Surakarta terhadap
kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor siswa?
D. TUJUAN PROGRAM
Program penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui ada tidaknya perbedaan kemampuan awal siswa kelas bertaraf
internasional dan kelas regular di SMA N 3 Surakarta
2. Mengetahui ada tidaknya perbedaan Efektivitas pembelajaran Fisika kelas
bertaraf internasional dan kelas regular di SMA N 3 Surakarta
3. Mengetahui ada tidaknya pengaruh faktor-faktor penunjang proses
pembelajaran Fisika kelas bertaraf internasional dan kelas regular di SMA
N 3 Surakarta terhadap efektifitas pembelajaran
4. Apakah ada interaksi antara penggunaan model Fisika kelas bertaraf
internasional dan kelas regular di SMA N 3 Surakarta terhadap
kemampuan kognitif ,afektif, dan psikomotor siswa
C. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Luaran yang diharapkan dari program penelitian ini adalah :
1. Kami dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai referensi dalam
peningkatan pelaksanaan pembelajarn.
2. Sekolah yang menjadi subjek Penelitian mengetahui efektifitas
pembelajaran Fisika pada kelas bertaraf internasional dan kelas Reguler
3. Sekolah dapat megetahui kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor
siswa kelas bertaraf internasional dan elas Reguler.
4. Kami dapat menjadikan hasil penelitian sebagai acuan untuk melakukan
penelitian selanjutnya
5. Dapat dijadikan referensi dalam pelaksanaan pembelajaran Fisika kelas
SBI dan kelas Reguler
E. KEGUNAAN PROGRAM
Adapun kegunaan dari program ini, diantaranya :
1. Peningkatas kualitas pembelajaran kelas SBI dan kelas Reguler
2. Membantu sekolah dalam rangka peningkatan kualitas pelaksanaan
pembelajaran
3. Mengetahui Efektivitas pembelajaran Fisika kelas berbasis internasional
dan kelas regular di SMA N 3 Surakarta
4. Mengembangkan kreativitas dalam merancang pembelajaran bagi
mahasiswa pelaksana kegiatan
F. TINJAUAN PUSTAKA
Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) adalah sekolah nasional namun
mempunyai kurikulum dan aturan yang bertaraf dan diakui dunia
internasional. Perbedaan SBI dengan SI (Sekolah Internasional) adalah
sekolah asing yang didirikan di Indonesia yang diperuntukkan bagi siswa
asing yang berada di Indonesia karena mengikuti oran tuanya bekerja. Sekolah
Bertaraf Internasional adalah sekolah yang dicetuskan oleh pemerintah dan
secara resmi tertera pada UU No. 20 Th. 2003 Pasal 50 ayat 3.
Beberapa Ciri Sekolah Bertaraf Internasional adalah sebagai berikut:
1. Input siswanya disaring secara ketat, sehingga hanya siswa yang
mempunyai kualitas yang tinggi yang dapat masuk ke Sekolah
Bertaraf Internasional
2. Dalam satu kelas dibatasi 20 s.d 30 orang
3. Menggunakan Bahasa Inggris sebagai pengantar untuk semua mata
pelajaran kecuali pelajaran Bahasa Indonesia. Pembagiannya
adalah 25 % bahasa Inggris dan 75 % Bahasa Indonesia. Bahkan
dituntut untuk bisa 100% dalam bahasa Inggris.
4. Mempunyai fasilitas IT di setiap kelasnya yang dilengkapi dengan
fasilitas internet
5. Kemungkinan besar siswa yang orang tuanya kaya yang akan
menjadi siswanya, karena biaya sekolah di SBI sangatlah mahal.
6. Guru harus mempunyai kemampuan bahasa Inggris yang memadai,
biasanya dibuktikan dengan nilai TOFL > 500
7. Mempunyai kurikulum local yang diakui internasional.
Karakteristik SBI
1. Menerapkan KTSP yang dikembangkan dari standart isi, standart
kompetensi kelulusan dan kompetensi dasar yang diperkaya dengan
muatan Internasional.
2. Menerapkan proses pembelajaran dalam Bahasa Inggris, minimal
untuk mata pelajaran MIPA dan Bahasa Inggris.
3. Mengadopsi buku teks yang dipakai SBI (negara maju).
4. Menerapkan standar kelulusan yang lebih tinggi dari standar
kompetensi lulusan (SKL) yang ada di dalam Standar Nasional
Pendidikan (SNP).
5. Pendidik dan tenaga kependidikan memenuhi standart kompetensi
yang ditentukan dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP).
6. Sarana/prasarana memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP).
7. Penilaian memenuhi standar nasional dan Internasional.
Visi dan Misi SBI
Visi SBI dirancang agar memnuhi tiga indikator,yaitu:
1. Mencirikan wawasan kebangsaan,
2. Memberdayakan seluruh potensi kecerdasan (multiple inteligencies)
3. Meningkatkan daya saing global
Misi SBI merupakan jabaran visi SBI yang dirancang untuk dijadikan referensi
dalam menyusun/mengembangkan rencana program kegiatan, indikator untuk
menuyun misi ini terangkum pada akronim SMART:
1. Specific
2. Measurable (terukur)
3. Achievable (dapat dicapai)
4. Realistis
5. Time Bound (jelas jangkauan waktunya)
Ada 3 hal pokok yang dijadikan sebagai rencana strategis pendidikan menengah di
Indonesia (Renstra Mendiknas 2005-2009), akses sekolah, sekolah berbasis
keunggulan lokal dan sekolah nasional bertaraf internasional.
Ketertinggalan pendidikan Indonesia dibandingkan negara-negara lain
merupakan momok yang membuat wakil pemerintah tidak bisa berdiri tegak di
forum-forum internasional. Oleh karenanya harus ada upaya mengharumkan
nama bangsa melalui pendidikan. Dan itu sudah dicapai oleh anak-anak
cemerlang yang berhasil meraih 13 medali emas dalam olimpiade sains dan math
di tahun 2004. Tahun 2007, pemerintah mentargetkan harus memperoleh 20
medali emas. Suatu prestasi yang membanggakan memang, dan saya mendukung
usaha Pak Yohannes Surya untuk menggali potensi anak-anak ini. Perkara
mereka kemudian ditawari sekolah ke luar negeri adalah pembahasan yang lain.
Tahun 2004 telah bermunculan sekolah-sekolah swasta yang mengadopsi
kurikulum dari Singapura, Australia, Cambridge Univ, bahkan sebuah sekolah di
Semarang mengadopsi kurikulum Turki. Seperti biasa karena levelnya
international maka bahasa pengantarnya harus bahasa Inggris, dan SPP-nya harus
dikalkulasi dengan dolar, rupiah sudah tidak laku di sini ! Guru-gurunya pun
didatangkan khusus dari negara asalnya. Supaya tetap dapat diakui
keberadaannya di negara RI, tentunya sekolah-sekolah ini harus menggunakan
kurikulum nasional. Ya, menurut wakasek sebuah sekolah yang saya wawancarai,
mereka memang tetap mengacu kepada kurnas sekedar untuk meloloskan siswa di
UAN, tetapi buku-buku, metode pembelajaran semuanya menjiplak dari negara
asalnya. Target sekolah ini tentu saja orang tua yang menginginkan anaknya
bersekolah ke luar negeri, yg menurut laporan ada sekitar 2500 anak yang ingin
bersekolah ke luar negeri setiap tahunnya.
Era Globalisasi menuntut kemampuan daya saing yang kuat dalam
teknologi, manajemen, dan sumberdaya manusia. Keunggulan teknologi akan
menurunkan biaya produksi, meningkatkan kandungan nilai tambah, memperluas
dan meningkatkan mutu produk. Keunggulan manajemen akan meningkatkan
efektivitas dan efisiensi. Keunggulan sumberdaya manusia (SDM) merupakan
kunci daya saing karena SDM lah yang akan menentukan siapa yang mampu
menjaga kelangsungan hidup, perkembangan, dan kemenangan dalam persaingan.
Dalam Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan
Nasional pasal 50 ayat 3 disebutkan bahwa “ pemerintah dan/atau pemerintah
daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satau satuan pendidikan pada
semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan mwnjadi satuan pendidikan
bertaraf internasional”
G. Pendidikan di Indonesia harus mengacu filosofi
eksistensialisme dan esensialisme. Artinya pendidikan harus menyuburkan dan
mengembangkan eksistensi peserta didik seoptimal mungkin melalui fasilitasi yang
dilaksanakan melalui proses pendidikan yang bermartabat dan pro-perubahan.
Penyelenggaraan pendidikian harus memperhatikan perbedaan kecerdasan,
kecakapan, bakat daan minat peserta didik. Peserta didik harus diberi perlakuan
secara maksimal untuk mengaktualkan potensi intelektual, emosional, dan
spiritualnya. Filosofi esensialisme menekankan bahwa pendidikan harus berfungsi
dan relevan dengan kebutuhan berbagai sektor dan sub-sub sektornya, baik lokal,
nasional, maupun internasional. Terkait dengan tuntutan global , pendidikan harus
menyiapkan sumberdaya manusia yang mampu bersaing secara internasional. Dalam
mengaktualisasikan kedua filosofi tersebut, empat pilar pendidikan yakni learning to
know, learning to do, learning to live together, dan learning to be merupakan patokan
berharga bagi penyelenggaraan pendidikan di Indonesia, mulai dari kurikulumk, guru,
proses belajar mengajar, saran dan prasarana, hingga sistem penilaiannya.
H. Berdasarkan alasan- alasan di atas maka
pemerintah merintis adanya sekolah-sekolah bertaraf internasional di
setiap jenjang pendidikian. Mulai tahun pelajaran 2007/2008 pemerintah
menetapkan 101 SMP sebagai rintisan sekolah bertaraf internasional.
Landasan Kebijakan
Sekolah Bertaraf Internasional yang diselenggarakan oleh pemerintah dan
atau oleh masyarakat harus berlandaskan pada beberapa peraturan
perundangan dan kebijakan sebagai berikut:
1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional dalam pasal 50 menyatakan bahwa:
a. Ayat (2): Pemerintah menentukan kebijakan nasional dan standar nasional
pendidikan untuk menjamin mutu pendidikan nasional.
b. Ayat (3): pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah menyelenggarakan
sekurang-kurangnya satu sekolah pada semua jenjang pendidikan untuk
dikembangkan menjadi sekolah yang bertaraf internasional.Undang-Undang
Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Nasional Tahun 2005 – 2025 mengatur perencanaan pembangunan jangka
panjang sebagai arah dan prioritas pembangunan secara menyeluruh yang
akan dilakukan secara bertahap untuk mewujudkan masyarakat adil dan
makmur.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan dalam Pasal 61 Ayat (1) menyatakan bahwa: Pemerintah
bersama-sama pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya
satu sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan sekurang-kurangnya satu
sekolah pada jenjang pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi
sekolah bertaraf internasional.
3. Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2005-2009
menyatakan bahwa untuk meningkatkan daya saing bangsa, perlu
dikembangkan sekolah bertaraf internasional pada tingkat kabupaten/kota
melalui kerjasama yang konsisten antara pemerintah dengan pemerintah
kabupaten/kota yang bersangkutan.
4. Kebijakan Departemen Pendidikan Nasional (Tahun 2007) tentang Pedoman
Penjaminan Mutu Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional pada Jenjang
Pendidikan Dasar dan Menengah, antara lain pada halaman 10 disebutkan
“.........diharapkan seluruh pemangku kepentingan untuk menjabarkan secara
operasional sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan Sekolah/Madrasah
bertaraf internasional...”
D. METODE PELAKSANAAN
Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah melalui beberapa tahap
kegiatan, diantaranya :
a. Tempat dan waktu pelaksanaan
Tempat pelaksanaan : SMA Negeri 3 Surakarta
Waktu : tahun ajaran 2009 – 2010
b. Metode penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
deskripsi komparatif. Penelitian deskriptif bertujuan untuk membuat gambaran
secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat, serta hubungan
antara fenomena yang diselidiki. Dalam penelitian ini, diperbandingkan sistem
pembelajaran fisika di kelas SBI dan di kelas reguler. Metode deskriptif yang
digunakan dalam penelitian ini, bertujuan untuk memperoleh data yang akurat
sehingga akan mempermudah proses analisis.
c. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data dalam penelitian menggunakan teknik tes dan
teknik dokumentasi. Teknik tes digunakan untuk mendapatkan data nilai
kemampuan kognitif salah satu pokok bahasan Fisika kelas XI. Sebelum tes
dibuat, terlebih dahulu dibuat kisi-kisi tes.
Setelah dikonsultasikan dengan pembimbing, soal tersebut kemudian
diujicobakan pada sekolah lain yang dianggap tidak jauh beda kualitasnya dengan
sekolah yang menjadi tempat penelitian yaitu SMA Negeri 3 Surakarta.
Kegunaannya adalah untuk memilih butir soal yang baik dan memenuhi syarat.
Instrumen penelitian
Instrumen penelitian terbagi menjadi dua yaitu :
1. Instrumen pelaksanaan penelitian, yang berupa satuan pelajaran, rencana
pengajaran, dan lembar kegiatan siswa. Untuk menjamin bahwa instrumen
penelitian valid, maka instrumen dikonsultasikan kepada pembimbing atau para
ahli.
2. Instrumen dalam pengambilan data berupa instrumen tes dan angket
a. Tes
Untuk instrumen pengambilan data disusun oleh peneliti, agar instrumen
menjadi valid, instrumen dikonsultasikan kepada pembimbing kemudian
instrumen tersebut diujicobakan terlebih dahulu. Untuk menguji bahwa
item dalam instrumen tes baik harus memenuhi persyaratan dalam hal
tingkat kesukaran, daya pembeda, validitas, dan reliabilitas.
Taraf kesukaran
Soal yang baik untuk alat ukur prestasi adalah soal yang mempunyai
taraf kesukaran yang memadai, dalam arti soal tidak terlalu sulit dan
tidak terlalu mudah. Untuk menentukan taraf kesukaran dari tiap-tiap
item soal digunakan rumus
B
P
Js
(Suharsimi Arikunto, 2002 : 208)
Keterangan :
P : indeks kesukaran
B : banyaknya siswa yang menjawab soal betul
Js : jumlah seluruh siswa peserta tes
Menurut ketentuan indeks kesukaran sering terjadi klasifikasi sebagai
berikut :
1) Soal sukar jika: 0,00 P 0,30
2) Soal sedang jika : 0,30 P 0,70
3) Soal mudah jika : 0,70 P 1,00
Daya pembeda
Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk
membedakan antara siswa yang pandai (kemampuan tinggi) dengan
siswa yang kurang pandai (kemampuan rendah). Untuk menghitung
daya pembeda setiap soal, dapat digunakan rumus sebagai berikut :
BA BB
D PA PB
JA JB
(Suharsimi Arikunto, 2002 : 211)
Keterangan :
J : jumlah peserta tes
JA : banyaknya siswa kelompok atas
JB : banyaknya siswa kelompok bawah
BA : banyaknya siswa kelompok atas yang menjawab benar
BB : banyaknya siswa kelompok bawah yang menjawab benar
PA : proporsi siswa kelompok atas yang menjawab benar
PB : proporsi siswa kelompok bawah yang menjawab benar
Daya pembeda (nilai D) diklsifikasikan sebagi berikut :
1) soal dengan 0,00 D 0,20 = jelek
2) soal dengan 0,20 D 0,40 = cukup
3) soal dengan 0,40 D 0,70 = baik
4) soal dengan 0,70 D 1,00 = baik sekali
Validitas
Sebuah tes valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak
diukur. Teknik yang digunakan untuk menentukan validitas item tes
obyektif pilihan ganda dan esai adalah dengan menggunakan teknik
korelasi point Biserial dengan rumus :
Mp Mt p
pbi
St q
(Suharsimi Arikunto, 2002 :79)
Keterangan :
pbi : koefisien korelasi biserial
Mp : rerata skor dari subyek yang menjawab benar
Mt : rerata skor total
St : standar deviasi dari skor total
p : proporsi siswa yang menjawab benar
q : proporsi siswa yang menjawab salah (q = 1 – p)
Kriteria
pbi tabel : soal valid
pbi tabel : soal tidak valid (invalid)
Reliabilitas
Reliabilitas sering diartikan dengan keajegan suatu tes apabila
diteskan kepada subyek yang sama dalam waktu yang berlainan atau
kepada subyek yang tidak sama pada waktu yang sama.
Untuk menghitung reliabilitas digunakan rumus yang dikemukakan
oleh Kuder dan Richardson yang dihitung dengan menggunakan rumus
K-R 20, sebagai berikut :
n S2 pq
r11 = 2
n 1 S
(Suharsimi Arikunto, 2002 : 101)
Keterangan :
r11 : reliabilitas tes secara keseluruhan
p : proporsi subyek yang menjawab item dengan benar
q : proporsi subyek yang menjawab item dengan salah (q = 1-p)
Σpq : jumlah hasil perkalian antara p dan q
n : banyaknya item
S : standar deviasi dari tes
Hasil perhitungan tingkat reliabilitas tersebut kemudian
dikonsultasikan dengan tabel r product moment. Apabila harga rhitung >
rtabel , maka dapat ditarik kesimpulan bahwa instrumen reliabel.
Kriteria nilai reliabilitas :
0,8 r11 1 : sangat tinggi
0,6 r11 0,8 : tinggi
0,4 r11 0,6 : cukup
0,2 r11 0,4 : rendah
0,0 r11 0,2 : sangat rendah (Suharsimi Arikunto, 2002:109)
b. Angket
Instrumen ini digunakan untuk mencari data tentang fasilitas,
sistem pembelajaran, kondisi siswa, dan faktor-faktor penunjang
pembelajaran lain yang mendukung konkretisasi data lapangan.
Angket sebelum digunakan dalam pengambilan data, instrumennya
diujicobakan terlebih dahulu guna mengetahui kualitas item angket.
(1) Uji Validitas
Untuk menghitung validitas butir soal angket digunakan
rumus sebagai berikut :
N XY X Y
rxy =
2 2 2 2
N X X N Y Y
Keterangan rumus:
rxy : koefisien validitas
X : skor butir item nomor tertentu
Y : skor total
N : jumlah subyek
Item dikatakan valid bila harga r hitung r total kriteria.
Klasifikasi koefisien korelasi:
0,91 – 1,00 : sangat tinggi
0,71 – 0,90 : tinggi
0,41 – 0,70 : cukup
0,21 – 0,40 : rendah
negatif – 0,20 : sangat rendah
( Masidjo, 1995: 243 )
Hasil dari perhitungan diatas dikonsultasikan dengan
tabel kritik r product moment. Sebuah Tes dianggap valid jika rxy
> r tab.
(2) Uji Reliabilitas
Untuk mengetahui reliabilitas tes digunakan rumus alpha
(digunakan untuk mencari reliabilitas yang skornya bukan 1 dan
0) yaitu sebagai berikut:
2
n i
11
= 1 2
n 1 t
Keterangan :
11
: reliabilitas instrumen
n : banyak butir pertanyaan atau banyaknya soal
i
: jumlah kuadrat masing-masing item
t
: kuadrat total keseluruhan item
( Masidjo, 1995: 243 )
d. Teknik Analisis Data
Analisis data dalam Penelitian ini dimulai sejak awal sampai berakhirnya
pengumpulan data. Hal ini penting karena akan membantu peneliti dalam
mengembangkan penjelasan dari kejadian atau situasi yang berlangsung di dalam
kelas yang diteliti. Data-data dari hasil penelitian di lapangan diolah dan dianalisis
secara kualitatif. Teknik analisis kualitatif mengacu pada model analisis Miles dan
Huberman (1992: 16-19) yang dilakukan dalam tiga komponen yaitu reduksi data,
penyajian data dan penarikan kesimpulan dan verifikasi.
1. Reduksi data
Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian
pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang
muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Reduksi data bukanlah suatu
hal yang terpisah dari analisis. Proses ini meliputi penyeleksian data melalui
ringkasan atau uraian singkat dan penggolongan data ke dalam pola yang lebih
luas.
2. Penyajian data
Penyajian data diartikan sebagai sekumpulan informasi tersusun yang
memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan
tindakan. Proses ini dilakukan dalam rangka mengorganisasikan data yang
merupakan penyusunan informasi secara sistematik dari hasil reduksi data
dimulai dari perencanaan, pelaksanaan tindakan observasi dan refleksi pada
masing-masing siklus.
3. Penarikan kesimpulan atau verifikasi
Penarikan kesimpulan merupakan upaya pencarian makna data, mencatat
keteraturan dan penggolongan data. Data terkumpul disajikan secara
sistematik dan perlu diberi makna. Selanjutnya untuk mempermudah
verifikasi dan analisis data yang diperlukan untuk menjawab permasalahan
yang ada, diidentifikasi secara khusus pada tiap-tiap siklus pembelajaran.
Adapun model analisis data yang digunakan adalah interaktif model dapat
dilihat dalam skema di bawah ini
Pengumpulan data
Reduksi data Sajian data
Kesimpulan
dan verifikasi
Skema Analisis data
Cara pengumpulan data dengan beragam tekniknya harus benar-benar
sesuai dan tepat untuk menggali data yang diperlukan bagi penelitinya. Teknik
yang digunakan untuk memeriksa validasi data antara lain menurut Lather dalam
Supardi (2006: 128) antara lain:
a. Face validity (validitas muka), setiap anggota kelompok peneliti tindakan
saling mengecek/ menilai/ memutuskan validitas suatu instrumen dalam
penelitian tindakan.
b. Triangulaion (triangulasi), menggunakan berbagai sumber data untuk
meningkatkan kualitas penilaian.
c. Critical reflection, setiap tahap siklus penelitian tindakan dirancang untuk
meningkatkan kualitas pemahaman
d. Catalytic validity (validitas pengetahuan) yang dihasilkan oleh peneliti
tindakan bergantung pada kemampuan peneliti sendiri dalam mendorong
pada adanya perubahan (improvement).
Menurut Lexy J. Moleong dalam Sarwiji (2008 : 69) Triangulasi adalah
teknik pemeriksaan data dengan memanfaatkan sarana di luar data itu untuk
keperluan pengecekan atau pembandingan data itu. Sarana di luar data tersebut
dapat berupa observasi dan wawancara. Menurut Elliot dalam Rochiati (2005 :
169) triangulasi dilakukan berdasarkan tiga sudut pandangan, yakni sudut
pandeng guru, sudut pandang siswa, dan sudut pandang yang melakukan
pengamatan atau observasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data
yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan
atau sebagai pembanding terhadap data itu. Teknik triangulasi yang digunakan
adalah triangulasi metode. Teknik triangulasi metode dilakukan dengan
mengumpulkan data tetap, menggunakan metode pengumpulam data yang
berbeda-beda. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode pengumpulan
data melalui teknik observasi, wawancara, angket, dan tes prestasi.
Adapun skema dari pemeriksaan validitas data yang digunakan dapat
dilihat dalam gambar berikut:
wawancara
Sumber data
Data observasi
Tes/angket
Skema pemeriksaan Validitas Data
E. JADWAL KEGIATAN PROGRAM
Bulan I II III IV V VI
Perencanaan awal
penelitian
Pembuatan instrumen
penelitian
Pelaksanaan penelitian
Pengolahan data
Monitoring
Pelaksanaan
Penyusunan laporan
penelitian
Pelaporan hasil
kegiatan
F. RINCIAN BIAYA KEGIATAN
a. Peralatan penunjang PKM
- Rental Komputer : Rp.100.000,00
- Print proposal dan laporan : Rp.150.000,00
- Penggandaan proposal dan laporan : Rp.200.000,00
b. Biaya pembuatan instrument penelitian
Pembuatan instrumen penelitia : Rp. 750.000,00
Uji coba instrumen penelitian : Rp. 250.000,00
Konsumsi
Snack
125 x @ Rp. 7.500,00 : Rp. 937.500,00
Makan
125 x @ Rp. 10.000,00 : Rp.1.250.000,00
Uji analisis instrumen : Rp. 200.000,00
Revisi instrument penelitian : Rp. 100.000,00
Penggandaan instrumen
120 x @ Rp. 10.000,00 : Rp.1.200.000,00
Pembuatan media pembelajaran
Spidol warna
2 pack x @ Rp. 15.000,00 : Rp. 50.000,00
Board maker
10 x @ Rp. 5.000,00 : Rp. 50.000,00
c. Biaya pelaksanaan penelitian
- Kertas HVS
5 rim x @ Rp. 30.000,00 : Rp 150.000,00
- Transportasi : Rp. 250.000,00
-Dokumentasi dan kenang-kenangan : Rp. 1.175.000,00
d. Pengolahan data penelitian : Rp. 500.000,00
e.Konsumsi
Snack
125 x @ Rp. 7.500,00 : Rp. 937.500,00
Makan
125 x @ Rp. 10.000,00 : Rp.1.250.000,00
f. lain-lain : Rp. 500.000,00
Total
: Rp. 10.000.000,00
I. DAFTAR PUSTAKA
Budiharti, Rini. 1998. Strategi Belajar Mengajar. Surakarta : Uns Press.
Budiyono.2000. Statistik Dasar Untuk Penelitian. Surakarta: Uns Press.
Depdiknas. 2006. KTSP IPA Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas.
Masidjo, 1995. Penilaian Pencapaian Hasil Belajar di Sekolah. Yogyakarta.
Kanisius.
Miles dan Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif. Jakarta : UI Press.
Sugiyono, Retno. 2000. Pembelajaran Matematika Model Demonstrasi.
Jogjakarta : Andy
Suharsimi, arikunto. 2003. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Rinerka
cipta.
Suwandi, Suwandi.2008. Penelitian Tindakan Kelas. Surakarta : UNS
Wiriaatmadja. Rochiati.2005. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung :
Rosda.
J. LAMPIRAN
1. Daftar riwayat hidup peneliti dan pembimbing
2. Denah lokasi
3. Surat kesepakatan kerjasama
LAMPIRAN 1
BIODATA DIRI
Nama : RAHMAT AFRIYANTO
NIM : K2307045
Tempat dan tanggal lahir : Wonogiri,26 April1989
Alamat
a. Asal : Melikan, RT2/11 Setrorejo,Baturetno
Kab.Wonogiri Jawa tengah
b. Sekarang : Jalan Ki Hajar Dewantoro 60, Surakarta
No HANDPHONE : 085293218441
Status : Mahasiswa
Riwayat Pendidikan
1. MIM SETROREJO LULUS TAHUN 2001
2. SMPN I BATURETNO LULUS TAHUN 2004
3. SMAN1 BATURETNO LULUS TAHUN 2007
4. FKIP FISIKA UNS 2007 – SEKARANG
Riwayat organisasi
- Ketua OSIS SMAN1 Baturetno periode 2005/2006
- Staff Keaparatan HMP Fisika Grafitasi periode 2007/2008
- Staff Kaderisasi SKI FKIP periode 2007-2009
- Kordep Dokumentasi dan Administrasi Organisasi HMP Fisika Grafitasi
periode 2009
Surakarta, 22 Oktober 2009
Rahmat Afriyanto
NIM.K2307045
BIODATA DIRI
Nama : HERU EDI KURNIAWAN
NIM : K2307009
Tempat dan tanggal lahir : Batang, 7 April 1989
Alamat
a. Asal : Harjowinangun Barat, RT 03/ RW 01,
Kecamatan Tersono , Batang, Jawa
Tengah
b. Sekarang : Jalan Ki Hajar Dewantoro 60 kentingan
Surakarta Jawa Tengah 57126
No HANDPHONE : 085640406960
Status : Mahasiswa
Riwayat Pendidikan
1. MI NURUL HUDA HARJOWINANGUN LULUS TAHUN 2001
2. SMPN 1 TERSONO LULUS TAHUN 2004
3. SMAN 1 PEKALONGAN LULUS TAHUN 2007
4. FKIP FISIKA UNS 2007 – SEKARANG
Riwayat organisasi
- Ketua Umum Pramuka SMAN 1 PEKAONGAN periode 2005/2006
- Ketua komisi A MPK SMAN 1 PEKALONGAN periode 2005/2006
- Staff bidang kajian RAMA SMAN 1 PEKALONGAN periode 2005/2006
- Staff bidang pembinaan Scient Club SMAN 1 PEKALONGAN periode
2005/2006
- Staff FULDFKIP SKI FKIP Periode 2007/2008
- Ketua Departemen Akademis dan Kreatif Bidang PSDA SKI FKIP
periode 2008/2009
- Staff Kajian Ilmiah Bidang Pendidikan HMP FISIKA GRAFITASI
periode 2008/2009
- Ketua Depatemen Pendidikan Bidang Pendidikan dan Kajian Ilmiah
periode 2009/2010
Riwayat Penulisan Karya Ilmiah
Penerapan Model Pembelajaran Quantum Teaching And Learning Untuk
Meningkatkan Kemampuan Kognitif Siswa Pada Pembelajaran Ipa
Sekolah Dasar Ditinjau Dari Kemampuan Awal Siswa (PKMP DIPA
2008)
Penyuluhan Bahaya Dan Pencegahan Radiasi Handphone Pada Organ
Tubuh Manusia Di Desa Banaran, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten
Sragen (PKMM DIPA 2009)
Masa Depan Pendidikan Indonesia ( Makalah Juara 2 Syarat Pemilihan
Model Pak Harfan Bu Mus 2009)
1. Seminar Public Speaking 2007
2. Seminar Penulisan Karya Ilmiah 2007
3. Seminar Regional 2008
4. FIMAKIP(Forum Ilmiah Mahasiswa FKIP) 2008
Surakarta, 22 Oktober 2009
Heru Edi Kurniawan
NIM. K2307009
BIODATA DIRI
Nama Lengkap : Ana Yuniasi Retno Wulandari
NIM : K2306013
Tempat dan tanggal lahir : Boyolali, 1 Juni 1988
Alamat
a. Asal : Pilangsari 06/01, Potronayan, Nogosari, Boyolali
b. Sekarang : Pilangsari 06/01, Potronayan, Nogosari, Boyolali
No. telepon : 085647363096
Status : Mahasiswa
Riwayat Pendidikan
1. SD N Potronayan 1 Lulus tahun 2000
2. SMP N 1 Kartasura Lulus tahun 2003
3. SMA N 4 Surakarta Lulus tahun 2006
4. FKIP Fisika UNS 2006-sekarang
Riwayat organisasi
Bendahara Tahara Karangtaruna Manunggal Sedyo 2007 – 2008
Staff Departement Pendidikan HMP Fisika GRAFITASI periode 2007
Staff Departement Pendidikan HMP Fisika GRAFITASI periode 2008
Ketua Bidang Pendidikan dan Kajian Ilmia


Use: 0.0943